Social Icons

Pages


Tampilkan postingan dengan label arkeologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arkeologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 November 2015

Tlachihualtepetl, Piramida Terbesar di Dunia yang Telah Lama Hilang

Salah satu fitur yang paling terlihat di kota kecil San Andres Cholula, di wilayah Puebla Meksiko, adalah sebuah gereja yang dibangun di puncak bukit setinggi 180 kaki dari atas kota.

Gereja ini bernama Iglesia de Nuestra Senora de los Remedios (Church of Our Lady of Remedies), juga dikenal sebagai Santuario de la Virgen de los Remedios (Sanctuary of the Virgin of Remedies), yang dibangun pada tahun 1594 di atas sebuah candi pra-hispanik.


Gereja ini dibangun pada masa-masa Conquistadores (penaklukan spanyol di amerika latin), menjadikannya sebagai situs yang menarik. Apalagi dibingkai dengan puncak gunung berapi aktif, seperti dalam foto dibawah ini, yang merupakan salah satu foto pariwisata paling populer di Meksiko.


Oke, sekarang kita kembali pada masa-masa penaklukan Spanyol di Amerika Latin. Sebagai penakluk, mereka meruntuhkan kuil-kuil penduduk pribumi yang mereka temukan dan membangun gereja-gereja di tempat-tempat dimana kuil-kuil itu dulunya berdiri.

Itu cara orang Spanyol menegaskan dominasinya, dan juga menegaskan dominasi agama Katolik diatas agama-agama penduduk asli.

Penduduk asli Amerika telah menghabiskan ribuan tahun untuk membangun banyak candi dan kuil, jadi ada banyak gereja yang dibangun untuk menggantikan mereka.

Banyak dari candi-candi dan kuil-kuil yang dibangun penduduk asli Amerika, yang dibangun di atas piramida batu.

Nah, gereja kecil di Cholula yang sepertinya berdiri di atas bukit, ternyata berdiri di sebuah kompleks piramida yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia.


Mungkin ini adalah keajaiban terbesar pada dunia kuno yang seakan tidak akan pernah terlihat. Kita tidak bisa melihatnya karena tertutup tanah. Ini menjelaskan mengapa konstruksi besar ini sempat tidak dikenal, karena hanya terlihat sebagai sebuah gundukan tanah yang sangat tidak fotogenik.

Nama asli dari situs ini adalah "Tlachihualtepetl" (bahasa Nahuatl, yang merupakan bahasa lokal asli Amerika dari zaman suku Aztec, yang berarti "gunung buatan"). Ya, ternyata bukit ini di dalamnya terdiri dari susunan batu yang bukan alami.


Piramida ini dibangun dalam empat tahap, diperkirakan mulai dari abad ke-3 SM hingga abad ke-9 M, dan didedikasikan untuk dewa Quetzalcoatl.

Piramida ini luas dasarnya sekitar 450 m x 450 m, dan tinggi 66 m. Menurut Guinness Book of Records, Inilah piramida terbesar serta monumen terbesar yang pernah dibangun di dunia.

Dengan total volume diperkirakan lebih dari 4,45 juta m3 batu, bahkan lebih besar dari Piramida Agung Giza di Mesir yang hanya sekitar 2,5 juta m3 batu.

Namun Piramida Agung Giza lebih tinggi, karena tingginya mencapai 138,8 m. Suku Aztec percaya bahwa Xelhua lah yang membangun Piramida Besar Cholula.











Para peneliti telah menggali kembali terowongan-terowongan yang ada di dalam bukit, lebih dari delapan kilometer. Penelitian mereka menyimpulkan bahwa gaya arsitektur batu dan artefak yang ditemukan di situs ini memiliki kemiripan dengan Teotihuacan.


Sumber :
versesofuniverse

Jumat, 26 Desember 2014

Tsunami Dahsyat 2004 Mengungkap Misteri "Seven Pagodas" yang Telah Lama Hilang

Sebelum akhir 2004, semua bukti tentang keberadaan "Seven Pagodas" atau Tujuh Pagoda sebagian besar hanyalah legenda semata.

Keberadaan Shore Temple, candi yang lebih kecil dan Rathas hanya membuktikan bahwa daerah tersebut memiliki makna keagamaan yang kuat, tetapi ada sebuah bukti baru yaitu sebuah lukisan dari era Pallava yang menggambarkan sebuah komplek candi.


Ramaswami bahkan menulis secara eksplisit dibukunya tahun 1993 yang berjudul "Candi-Candi di India Selatan", bahwa "Tidak ada kota yang tenggelam di Mamallapuram. Julukan yang diberikan oleh orang Eropa , 'The Seven Pagodas' adalah irasional dan tidak dapat dipertanggungjawabkan".

Namun kemudian pada tahun 2002 para ilmuwan memutuskan untuk menjelajahi daerah lepas pantai Mahabalipuram, dimana banyak nelayan Tamil modern yang mengaku telah melihat sekilas reruntuhan di dasar laut.

Proyek ini merupakan upaya bersama antara National Institute of Oceanography (NIO, India) dan Scientific Exploration Society, (Vora, Inggris). Kedua tim menemukan sisa-sisa dinding di kedalaman 5 sampai 8 meter, dan 500 sampai 700 meter dari pantai.

Tata letak dinding tersebut mengisyaratkan bahwa mereka adalah dinding dari beberapa kuil. Para Arkeolog juga mengatakan bahwa dinding tersebut bertanggal kembali ke era Pallava, kira-kira saat Mahendravarman I dan Narasimharavarman I memerintah wilayah tersebut.

Para ilmuwan juga menambahkan bahwa situs bawah air mungkin mengandung struktur tambahan dan artefak, dan layak untuk dieksplorasi lebih lanjut di masa depan.


Sesaat sebelum tsunami

Sesaat sebelum tsunami 26 desember 2004 melanda Samudera Hindia, termasuk Teluk Benggala, air laut di lepas pantai Mahabalipuram surut sekitar 500 meter.

Banyak turis dan warga setempat yang menyaksikan peristiwa surutnya air laut ini, melihat barisan batu-batu besar yang panjang muncul dari air.

Setelah tsunami itu pergi, batu-batu ini tertutup kembali oleh air. Namun, sedimen yang berabad-abad telah menutupinya kini telah pergi. Tsunami juga membuat beberapa perubahan garis pantai, yang menyebabkan beberapa patung dan struktur kecil yang sebelumnya terendam air, ditemukan di pantai.

Candi yang terendam di Mahabalipuram


Setelah Tsunami

Kesaksian para saksi yang melihat semacam bangunan sesaat sebelum tsunami, kembali mendorong ketertarikan kalangan ilmiah terhadap situs ini.

Mungkin temuan arkeologi paling terkenal setelah tsunami adalah patung batu singa besar, yang muncul di pantai karena perubahan garis pantai Mahabalipuram yang disebabkan oleh tsunami.

Patung singa ini ternyata berasal dari abad ke -7. Penduduk setempat dan wisatawan telah berbondong-bondong untuk melihat patung ini tak lama setelah tsunami.


Pada April 2005, Survei Arkeologi India (ASI) dan Angkatan Laut India mulai mencari di perairan lepas pantai Mahabalipuram dengan perahu, menggunakan teknologi sonar (Das).

Mereka menemukan bahwa deretan batu-batu besar yang telah dilihat orang sesaat sebelum tsunami adalah bagian dari dinding setinggi 6 kaki dan panjangnya 70 meter.

ASI dan Angkatan Laut juga menemukan sisa-sisa dua candi terendam lain dan satu kuil gua dalam jarak 500 meter dari pantai. Meskipun temuan ini tidak atau belum begitu sesuai dengan mitos tujuh pagoda, setidaknya mereka menunjukkan bahwa sebuah kompleks besar kuil berada di Mahabalipuram.




Ini membuat mitos yang selama ini beredar menjadi lebih dekat dengan realitas dan ada kemungkinan lebih banyak penemuan yang menunggu untuk ditemukan.

Arkeolog ASI, Alok Tripathi mengatakan kepada The Times of India pada wawancara Februari 2005, bahwa eksplorasi sonar telah memetakan dinding dalam dan luar dari dua candi yang terendam.

Dia menjelaskan bahwa timnya belum bisa menunjukkan fungsi bangunan ini. A.K. Sharma dari Angkatan Laut India juga mengatakan kepada The Times of India bahwa tata letak struktur yang terendam ini terkait dengan Shore Temple dan struktur yang tidak terendam lainnya, dan juga cocok dengan lukisan era Pallava tentang komplek Tujuh Pagoda.


Arkeolog T. Satyamurthy dari ASI juga menyebutkan pentingnya temuan sebuah prasasti yang muncul di pantai setelah tsunami.

Prasasti tersebut menyatakan bahwa Raja Krishna III telah membayar para penjaga api abadi di sebuah kuil tertentu. Para arkeolog mulai menggali di sekitar prasasti tersebut ditemukan, dan dengan cepat menemukan struktur candi Pallava lain.

Mereka juga menemukan banyak koin dan item yang digunakan dalam upacara keagamaan Hindu kuno. Saat penggalian candi era Pallava ini, para arkeolog juga menemukan fondasi era Tamil Sangam, berusia sekitar 2000 tahun.

Kebanyakan arkeolog yang bekerja di situs percaya bahwa tsunami pernah melanda daerah ini kira-kira antara periode Tamil Sangam dan Pallava sehingga menghancurkan kuil tua.



Subrahmanya temple, salah satu candi yang terungkap oleh sunami 2004.
Dipercaya sebagai salah satu dari 7 Pagoda

ASI secara tidak sengaja juga menemukan struktur yang jauh lebih tua di situs ini. Sebuah struktur bata kecil, yang sebelumnya tertutup oleh pasir, muncul di pantai setelah tsunami.

Para arkeolog meneliti struktur itu, dan diketahui struktur itu berasal dari periode Tamil Sangam. Meskipun struktur ini tidak cocok dengan legenda tradisional, namun ini menambahkan intrik dan kemungkinan sejarah yang belum tereksplorasi di situs.

Pendapat di kalangan arkeolog saat ini adalah bahwa tsunami lain pernah menghancurkan kuil Pallava di abad ke-13. Ilmuwan ASI, G. Thirumoorthy mengatakan kepada BBC bahwa bukti fisik dari tsunami abad ke-13 dapat ditemukan di hampir sepanjang East Coast India.


Sumber :
versesofuniverse

Jumat, 07 November 2014

Benarkah Manusia Pernah Hidup Bersama Dinosaurus?

Manusia hidup dengan dinosaurus mungkin pernah kita lihat di film The Flinstone. Namun bebrapa peneliti meyakini bahwa manusia pernah hidup berdampingan dengan dinosaurus.

Seperti yang kita ketahui, para Dinosaurus pertama kali muncul 228 juta tahun silam, dan mereka bertahan hidup dengan waktu yang sangat lama hingga sekitar 65 juta tahun yang lalu. Sedangkan manusia, diperkirakan baru muncul sekitar tiga juta tahun yang lalu


Era ketertarikan pada Dinosaurus dimulai pada tahun 1820-an, ketika seorang pendeta, William Buckland dan seorang ahli fisika, Gideon Mantell secara terpisah menemukan beberapa tulang aneh dan sangat besar di pertambangan Inggris bagian selatan.

Pada tahun 1842,seorang ahli anatomi Inggris, Richard Owen, mengusulkan agar hewan raksasa yang telah punah ini sebaiknya diberi nama Dinosaurus, dari kata dalam bahasa Yunani yang berarti “Kadal yang menakutkan”.

Film pertama yang memunculkan dinosaurus adalah film tahun 1912 buatan D.W. Griffith dengan judul Man's Genesis (Dinosaurusnya masih lucu-lucu disini, sama sekali tidak serem, coba cari infonya di Google).

Namun film Dinosaurus pertama yang paling menarik perhatian adalah Gertie the Dinaosaur, sebuah film animasi pada tahun 1914. Sejak itu,dibuatlah ratusan film yang menampilkan dinosaurus, termasuk film menarik pada tahun 1966 yang berjudul One Million Years B.C. Ini film pertama yang menampilkan manusia hidup berdampingan dengan Dinosaurus.

Semuanya menegaskan bahwa Dinosaurus punah 65 juta tahun yang lalu, pada saat itu manusia pun belum muncul. Jadi, jika kita tidak hidup bersama dinosaurus paling tidak kita hidup bersama keturunan dekat mereka.

Tapi, kali ini saya mau menunjukkan beberapa bukti yang barangkali bisa merubah pandangan para ahli-ahli dari berbagai disiplin ilmu tersebut. Ada sebuah kemungkinan bahwa terdapat manusia modern yang pernah hidup sejaman dengan Dinosaurus.


Diatas ini adalah fosil jari manusia “modern” berusia lebih dari 100 juta tahun. Suatu temuan yang bisa dibilang sangat mengejutkan apabila kita lihat dari usia fosil tersebut. Jika kita lihat dari periode itu, berarti si manusia modern yang mempunyai jari ini memang benar-benar hidup sejaman dengan mereka para Dinosaurus.

Doktor Brosshil, Ketua Fakultas Geologi, Institut Berry, Kentucky, Amerika Serikat pada tahun 1938 mengumumkan bahwa ia menemukan 10 jejak yang menyerupai manusia di karang pasir pada zaman karbon.

Foto mikroskop dan infra merah membuktikan, bahwa semua jejak ini adalah tercipta secara alami dari pijakan kaki manusia, dan bukan diukir oleh tangan manusia. Menurut perkiraan, batu-batu yang meninggalkan jejak kaki manusia ini telah berumur 250 juta tahun lamanya.

Pada saat yang lebih awal lagi, ada orang di kota St.Loui, tepi sungai Mississippi, Amerika Serikat, pernah menemukan sepasang jejak kaki manusia di sebuah batu karang. Menurut penilaian ahli geologi, umur batuan ini kira-kira sudah 270 juta tahun lamanya.

Penemuan yang lebih unik lagi adalah sumber Antilop di Utah, Amerika Serikat. Seseorang bernama Missanter pada bulan Juni tahun 1968 menemukan beberapa bongkah fosil trilobite.


Dia menceritakan bahwa di saat dia menggunakan palu geologi dengan ringan mengetuk untuk membuka selempengan batu, lempeng batu-batu terbuka sama seperti sebuah buku, dia dengan terkejut menemukan jejak kaki seorang manusia pada permukaan batu yang sedang menginjak trilobite pada bagian tengahnya, sedangkan kepingan batu yang satunya lagi juga hampir memperlihatkan bentuk jejak kaki yang sempurna, namun yang semakin membuat ia merasa heran adalah ternyata beberapa orang itu mengenakan sandal!

Kemudian, pada bulan Juli 1968, ahli geologi ternama Doktor Bedick berinisiatif pergi sendiri ke Sumber Antilop untuk melakukan penyelidikan, lalu menemukan lagi sebuah jejak kaki anak kecil.

Pada bulan Agustus 1968, seorang pengajar di sekolah pemerintah di kota danau garam yang bernama Howard menemukan lagi dua jejak kaki manusia yang mengenakan sepatu di sebuah batuan yang sama yang mengandung fosil trilobite.

Trilobite adalah binatang samudera yang halus-kecil dan tidak memiliki ruas tulang belakang, satu spesies dengan udang dan kepiting. Waktu keberadaannya di bumi di mulai sejak 600 juta tahun yang lampau hingga punah pada 280 juta tahun yang silam.

Semakin membingungkan? Mari kita bandingkan :

Fosil pertama : Fosil Jari telunjuk manusia modern diatas berusia 100 juta tahun (periode ini sudah ada Dinosaurus)

Fosil kedua : Fosil Jejak kaki manusia yang seperti menggunakan alas kaki diatas berusia 250 tahun (periode ini sudah ada Dinosaurus)

Perbandingannya Dinosaurus punah 65 juta tahun silam, berarti benarkah ada manusia yang pernah hidup sezaman dengan Dinosaurus?

Mungkin ini masih bisa dikatakan sebagai suatu misteri terbesar juga, jika benar manusia modern telah muncul pada masa-masa itu, berarti itu jauh dari perkiraan para ahli yang menyebutkan kemunculan manusia modern sekitar 30.000 tahun silam.

Apa mungkin orang-orang ini datang dari masa depan dengan mesin waktu ya? Apa mungkin cara penghitungan karbonnya yang salah?


Lukisan Batu ICA - Peru


Di dataran utara Nasca, Peru, terdapat sebuah desa bernama ICA yang memiliki sebuah museum batu. Di dalam museum tersebut terpajang lebih dari 10.000 batu misterius yang terukir aneka gambar, sejumlah besar gambar yang sulit dipercaya, yang tercatat adalah sebuah peradaban manusia purbakala yang sangat maju yang telah musnah, gambar-gambar batu ini disebut prasasti batu ICA.

Menurut laporan media setempat, batuan-batuan yang terukir gambar yang disimpan di museum tersebut mulai ditemukan dalam skala besar ketika bendungan di Sungai ICA jebol.

Gambar yang terukir di atas batu tersebut antara lain galaksi angkasa, binatang purbakala, daratan prasejarah, bencana dahsyat zaman dulu dan beberapa goresan kategori lain.

Menurut prediksi batu-batu langka yang dikumpulkan ini mungkin sudah ribuan tahun usianya. Ahli terkait telah mengadakan tes kimia pada batu tersebut, dan hasilnya menunjukkan, bahwa batu-batu tersebut berasal dari sungai setempat dan merupakan batu Gunung Andes, permukaannya ditutupi dengan selapisan oksida.

Setelah diteliti oleh ilmuwan Jerman, disimpulkan bahwa bekas ukiran di atas batu tersebut sudah sangat lama usianya, dan batu yang ditemukan disekitar gua, terdapat fosil organisme jutaan tahun silam.

Oleh ilmuwan, manusia-manusia purbakala pada batu ukiran tersebut dinamakan “bangsa geological”, menurut pengamatan dari gambar batu ukiran tersebut, mereka memiliki peradaban yang sangat maju.

Di atas batu ukiran tersebut dilukiskan tentang operasi transplantasi organ, transfusi darah, teleskop, peralatan medis, manusia yang mengejar dinosaurus dan lain-lain pemandangan yang sulit dijelaskan secara ilmiah oleh ilmu pengetahuan modern.



Dalam gambar batu-batu ini, orang-orang bisa melihat secara jelas suasana kehidupan manusia bersama dengan dinosaurus dan ditilik dari gambar tersebut, perbandingan postur dinosaurus dengan manusia yang dilukiskan tidak berbeda jauh, dinosaurus bagaikan hewan piaraan, atau mungkin binatang yang dijinakkan orang-orang kala itu.

Menurut ilmuwan, bahwa dinosaurus sudah punah sejak ratusan juta tahun silam, namun yang membingungkan adalah bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan raksasa dinosaurus?

Ada sebuah batu yang dipahat dengan seekor Triceratops. Tampang dinosaurus ini sangat mirip dengan badak, namanya diambil dari 3 buah tanduk di kepalanya, seorang manusia menunggang di atas punggung Triceratops, tangannya menggenggam senjata seperti kampak.

Dan pada batu lainnya, tampak seorang manusia tengah menunggang di atas punggung dinosaurus. Selain itu, di atas sebuah batu terukir sebuah gambar, seorang manusia yang panik tampak dikejar oleh Tyrannosaurus Rex.

Menurut penuturan pemiliknya yakni Dr. Javier Cabrera, bangsa geological tahu bahwa di galaksi yang jauh terdapat kehidupan taraf tinggi, mereka memiliki teknologi angkasa yang hebat, tidak perlu memakai sumber energi yang dikenal manusia modern, tapi bisa melakukan perjalanan antar planet.

Di museum tersebut, ada beberapa gambar yang melukiskan bumi pada 13 juta tahun silam yang tampak dari angkasa. Ada 4 buah gambar pada ukiran tersebut persis seperti peta dunia, dan menurut sejumlah ahli, daratan yang dilukiskan pada peta-peta tersebut adalah daratan purbakala yang hingga sekarang masih merupakan misteri yakni daratan Atlantis.


Dalam dokumen kuno yang ditemukan juga ada gambaran tentang daratan purbakala yang tenggelam. Setelah ditentukan dengan pengecekan karbon oleh ahli geologi, terbukti bahwa keempat batu tersebut memang benar merupakan peta dunia pada 13 juta tahun silam, bahkan sangat tepat dan akurat.

Ditilik dari gambar batu ukiran tersebut, bangsa geological menguasai teknologi medis yang tinggi, misalnya transplantasi otak besar, serta bagaimana cara mengatasi reaksi penolakan organ dalam proses transplantasi, dan penerapan teknologi-teknologi ini baru mulai dalam ilmu kedokteran modern.

Salah satu gambar yang terukir dalam batu melukiskan pemisahan dan pengambilan benda berbentuk gelembung dalam lingkaran janin ibu hamil, dan menginjeksinya ke dalam tubuh pasien yang menanti transplantasi.


Pada batu ukiran tersebut juga dilukiskan tentang teknologi pembiusan dengan akupuntur dalam operasi kedokteran. Lalu juga ada batu-batu yang mengukir gambar tentang gen genetika.

Yang lebih unik lagi, sejumlah gambar pada batu ukiran tersebut sama dengan gambar raksasa di dataran Nasca, ribuan bentuk dari potongan batu koral ini karya siapa, dan apa artinya, hingga sekarang masih merupakan misteri, namun, apakah garis atau bentuk batu-batu tersebut ada hubungannya dengan ukiran batu ICA, belum dapat di buktikan!


Sumber :
anehdidunia

Minggu, 02 November 2014

Gua Besar Buatan yang Tersembunyi Selama 2000 Tahun di China

Jika Anda berkunjung ke gua Longyou di China, Anda akan terkejut karena gua ini memiliki permukaan melengkung dan arsitektur yang halus. Ya, ini adalah gua buatan dan dibuat sekitar lebih dari 2000 tahun yang lalu!


Kompleks gua ini terdiri dari 24 gua (yang telah ditemukan) yang diukir lebih dari 2.000 tahun yang lalu sampai saat ini tetap tidak diketahui dibuat oleh siapa dan mengapa. Tampaknya dibuat oleh orang-orang yang memiliki akses ke alat mirip dengan alat modern saat ini dan mesin.


Sebuah perkiraan kasar dari beban kerja yang terlibat dalam membangun komplek gua ini sungguh menakjubkan. Bayangkan, luas total 4 gua yang masing-masing tingginya 30 meter adalah 1.200 meter persegi, sehingga masing-masing gua dibuat dengan menggali dan memindahkan 36.000 meter kubik batu.

Karena ada 24 gua yang telah ditemukan hingga saat ini, maka penggalian secara keseluruhan akan menjadi 900.000 meter kubik batu yang dipindahkan. Luarbiasa, bahkan untuk masa kini!


4 kolom (pilar) yang didistribusikan secara simetris di dalam salah satu gua, dan unsur-unsur yang lebih luar biasa yang membuat kita bertanya-tanya "Bagaimana mereka membuatnya?". Belum lagi tanda misterius di dinding yang memberikan kesan bahwa alat berat seperti ekskavator terlibat selama pembangunan gua.


Pada bulan Juni 1992 seorang warga bernama Wu Anai, memutuskan untuk mengambil air dari sebuah gua lokal, dan terungkaplah gua pertama dari serangkaian gua buatan di daerah tersebut. 

Setelah 17 hari memompa keluar air yang memenuhi gua, maka terlihatlah sebuah ruang gua dan beberapa bukti yang menunjukkan bahwa ia tidak terbentuk secara alami, tapi artifisial.


Ukiran di dinding dan langit-langit yang membentuk suatu pola yang rumit dan tidak mudah untuk dilihat sehingga banyak orang percaya bahwa ukiran itu mengandung simbolisme. Ukiran tersebut seperti terdapat pada beberapa keramik, yang terletak di sebuah museum di dekatnya dengan kronologi antara 500 dan 800 SM.


Seperti kebanyakan desa di Cina selatan, ada banyak kolam di desa Shiyanbei, tapi kolam-kolam yang ternyata adalah gua buatan ini sebagian besar berbentuk persegi panjang, dan sangat dalam, yang dikenal sebagai "kolam maut".

Kolam ini penuh dengan ikan-ikan, yang mudah ditangkap. Setelah gua pertama airnya dipompa keluar, tak satupun ikan atau bangkai ikan ditemukan.

Salah satu gua yang telah dibuka untuk wisatawan, terdapat pola ukiran dengan simbol mengacu pada kuda, ikan dan burung (Bumi, Air, Udara). Kepala burung ini memiliki tampilan yang mirip dengan patung yang terungkap pada situs arkeologi Hemudu.








Gua Longyou baru ditemukan di akhir abad ke-20. Setidaknya 24 gua telah ditemukan sejauh ini. Meskipun penggalian secara keseluruhan melibatkan hampir satu juta meter kubik batu, tidak ada catatan sejarah mengenai pekerjaan ini. Asal mereka masih menjadi misteri.

Saat ini tidak ada penjelasan untuk keberadaan mereka. Mereka merupakan salah satu penggalian bawah tanah terbesar dari zaman kuno. Mereka saat ini dianggap sebagai 'Keajaiban Dunia Kuno yang Kesembilan'.

Penemuan ini telah menarik perhatian banyak ahli dari China, Jepang, Polandia, Singapura dan Amerika Serikat. Salah satu pertanyaan yang paling sulit adalah bagaimana dan mengapa gua-gua ini tetap tersembunyi dan tidak diketahui hingga selama lebih dari 2.000 tahun.


Sumber :
versesofuniverse

Rabu, 27 Agustus 2014

Misteri Peti Mati Mini dari Edinburgh

Tahu jenglot, kan? Rupanya misteri figur mini yang terkait dengan kisah mistis bukan hanya ada di Indonesia. Masyarakat Skotlandia juga punya kisah yang mirip, yakni keberadaan peti-peti mati 10 centimeter berikut sosok mayat di dalamnya.


Kumpulan peti mati mini tersebut ditemukan tak sengaja tahun 1836 oleh lima anak yang sedang berburu kelinci di hutan Edinburgh. Konon, ada 17 peti mati.

Sayangnya banyak yang dihancurkan oleh anak-anak tersebut hingga tersisa 8 buah setelah Kepala Sekolah dibantu organisasi arkeologi menyelamatkannya. Kini bisa dilihat di Museum Nasional Skotlandia.


Menurut penelitian di lokasi situs, 17 peti mati mini disusun tiga tingkat. Di tingkat 1 dan 2, masing-masing berjejer 8 peti mati, sementara pada tingkat paling atas hanya ada 1 peti mati.

Yang masih jadi misteri adalah, setiap figur di dalam peti mati memakai pakaian yang dibuat manual (handmade) berbahan katun. Menurut ahli tekstil, katun jenis ini baru muncul setelah tahun 1800-an. Sementara dari hasil penelitian lain, figur-figur di dalam peti mati sudah ada sejak sekitar 1790, atau tahun sebelumnya.


Misteri berikutnya, para peneliti menduga pembuat peti dan figur di dalamnya adalah orang yang berbeda. Tampaknya peti mati yang dibuat tidak ditujukan untuk figur mayat mungil di dalamnya. Hal ini terlihat seolah ada pemaksaan memasukkan figur ke dalam peti, yang terlihat dari beberapa bagian lengan yang patah.

Lagipula figur-figur mini didandani sedemikian rupa, dengan sepatu bot, model pakaian berbeda-beda. Mereka mungkin ada, atau dibuat untuk hal lain, bukannya berbaring di dalam peti mati.

Belum terjawabnya asal-muasal peti mati dan figur mini tersebut memunculkan banyak teori dan dugaan. Ada yang menyebut itulah orang-orang yang jadi korban mantra tukang sihir. Ada juga yang mengaitkan dengan mitos dalam tradisi pemakaman Skotlandia kuno.



Sumber:
knowledgenuts

Kamis, 20 Februari 2014

Wah, Nenek Moyang Kita Pemburu Kepala

Saya terkaget-kaget saat membaca majalah Historia yang isinya mengungkap sejarah kelam rakyat Nusantara tempo doeloe. Beberapa jurnal juga memuat hal yang sama. Pernah ada sebuah masa, ketika kebiadaban melekat erat jadi tradisi.

Mungkin kasus ini jadi alat serang yang menyebut masyarakat primitif memang biadab, karena itulah koloni orang barat (kulit putih) datang merubah masyarakat jadi lebih beradab. Satu sisi yang ada benarnya, walau tidak mutlak. Nyatanya, mereka juga sama biadabnya - dalam bentuk berbeda. Kasus penaklukan Amerika dan Australia, atau kemudian era wild west jadi contoh nyata.




Bagaimanapun, sejarah membantu kita belajar dari masa lalu, mengakui kesalahan, lalu mengambil hikmah untuk menjadi lebih baik di hari ini, dan masa depan.

Kisah kelam yang saya maksud adalah, saat nenek moyang kita pernah jadi pemburu kepala manusia. Dan, perilaku ini menyebar dari Barat hingga Timur, dari Aceh hingga Papua. Demikian uraiannya.



Aceh dan Sumatera
Marco Polo ternyata pernah berkunjung ke Sumatera. Dilaporkan, ia sempat mengunjungi Perlak, bagian utara Sumatra, pada 1292. Di sana, dia melihat penduduk yang tinggal di pegunungan memakan daging manusia.

Sangat berlawanan dengan penduduk yang tinggal di kota Perlak, di mana masyarakatnya lebih beradab, bahkan setelah berhubungan dengan pedagang-pedagang Islam, mereka berpindah dari menyembah berhala menjadi pengikut ajaran Muhammad.

Dia menuliskan itu dalam catatan perjalanannya. Dia tahu catatannya akan mengejutkan, dan mungkin tak dipercaya banyak orang. Karena itu, dia sampai bersumpah untuk meyakinkan pembacanya.

Selang lima bulan kemudian, Marco Polo menuju Pidie, daerah utara Sumatra lainnya. Di tempat ini, dia mendapati satu keluarga menyantap seluruh badan seorang anggota keluarganya sendiri yang mati karena sakit. “Saya yakinkan Anda bahwa mereka bahkan menyantap semua sumsum dalam tulang-tulang orang itu,” tulis Marco Polo dalam “Para Kanibal dan Raja-Raja: Sumatera Utara” dimuat dalam Sumatera Tempo Doeloe karya Anthony Reid.


Kalimantan
Dalam naskah Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) Buku 323, diceritakan sebuah suku pemburu kepala di Wu-long-li-dan, pedalaman Banjarmasin. Suku pemburu kepala itu disebut orang Beaju –Be-oa-jiu dalam lafal Hokkian (Fujian) selatan–, sebuah suku besar orang Dayak di pedalaman.

Mereka berkeliaran saat malam hari untuk memenggal dan mengoleksi kepala manusia. “Kepala ini mereka bawa lari dan dihiasi dengan emas. Para pedagang sangat takut terhadap mereka,” demikian dikutip W.P. Groeneveldt dalam Nusantara Dalam Catatan Tionghoa.


Akhirnya sempat dibuat sebuah perjanjian antarsuku untuk menghentikan saling bunuh (habunu), memenggal kepala (hakayau), dan memperbudak (hajipen). Perjanjian pada 1894 itu termashyur dengan nama Rapat Damai Tumbang Anoi.

 Sebelumnya, beberapa suku di Borneo terkenal sebagai pemburu kepala musuh. Seorang penulis berkebangsaan Norwegia mengukuhkan citra itu melalui bukunya yang terbit pada 1881, The Head-Hunters of Borneo. Dalam bukunya ini, Carl Bock menuliskan suku-suku itu berburu kepala dengan mandau, tombak, dan perisai. Setelah mendapatkan kepala musuh, seseorang berhak mendapatkan tato simbol kedewasaan.

Suku-suku di Borneo memiliki beragam alasan berburu kepala musuh seperti balas dendam, tanda kekuatan dan kebanggaan, pemurnian jiwa musuh, atau bentuk pertahanan diri. Ini karena Borneo dihuni oleh beragam suku sehingga tiap suku memiliki pandangan yang berbeda mengenai ngayau (memburu kepala).

“Saya yakin tak ada satu pun analisis yang bisa menjelaskan dengan tepat praktik dan makna-makna perburuan kepala...,” tulis Yekti Maunati dalam Identitas Dayak. “Di kalangan orang-orang Dayak sendiri terdapat berbagai kepercayaan dan mitologi.”


Sulawesi
Sementara itu, di Sulawesi, perburuan kepala diketahui telah berlangsung sebelum kedatangan orang Belanda. Orang Toraja Bare’e yang bermukim di Sulawesi Tengah selalu mengambil kepala musuhnya dalam tiap peperangan mereka, selama memungkinkan. Mereka harus membunuh dan memotong kepala musuhnya dengan cepat agar musuh tak mengalami penderitaan yang lama.

Kepala musuh kemudian dibawa ke kampung mereka. Upacara pun dilakukan. “Kepala diperlukan sebagai akhir masa berperang dan penahbisan di kuil sebagai tanda seseorang telah menjadi dewasa dan berani,” tulis R.E. Downs dalam “Head-Hunting in Indonesia”, Jurnal KITLV Vol. 111 No. 1 (1995).

Perburuan kepala di Sulawesi masih berlangsung hingga kedatangan orang Eropa. Alfred Russel Wallace, naturalis tersohor asal Inggris, yang mengunjungi Manado pada 10 Juni 1859, mendapatkan cerita itu langsung dari penduduk lokal (Minahasa). Kepala manusia dipakai untuk menghiasi makam dan rumah.

“Mereka berburu kepala manusia layaknya suku Dayak di Kalimantan... Ketika seorang kepala suku meninggal, dua potong kepala manusia yang baru dipenggal digunakan sebagai penghias makamnya... Tengkorak manusia merupakan hiasan yang paling disukai untuk rumah kepala suku,” tulis Wallace dalam catatannya, dimuat dalam Indonesia Timur Tempo Doeloe 1544-1992 karya George Miller.

Walaupun Wallace hidup di tengah penduduk pemburu kepala, Wallace merasa tak terancam. Bahkan, dia justru terkesan dengan karakter mental orang Minahasa. “Mereka juga memiliki karakter mental dan moral yang unik,” tulis Wallace. “Pembawaan mereka tenang dan halus.”




Ambon
Catatan sejarah memuat kisa perang antarkampung telah berlangsung berhari-hari di Seram di tahun 1648. Perang itu melibatkan orang-orang kampung di wilayah pantai dan orang gunung yang disebut Alifuru. Meski tak diketahui secara pasti, VOC (Vereenigde Oostindische Campaignie) melaporkan banyak korban tewas. Korban dari pihak wilayah pantai ditemukan tanpa kepala. Gubernur Ambon Robert Padtbrugge mengirim satu tim untuk mengusahakan perdamaian. Selain itu, dia meminta tim untuk meneliti adat berburu kepala orang Alifuru.

Tim kembali ke Ambon tanpa hasil. Perang tetap berkobar. Dan mereka tak bisa menjelaskan secara pasti mengapa orang Alifuru memburu dan mengoleksi kepala musuhnya.

“Di hadapan gubernur, tim itu melaporkan hasil penelitiannya mengenai kepercayaan orang Alifuru. Meski mengaku telah bekerja dengan baik, mereka tak berhasil menjelaskannya secara gamblang karena orang Alifuru sangat klenik. Mereka tak bisa memahaminya,” tulis Gerrit J. Knaap dalam “The Saniri Tiga Air (Seram)”, Jurnal KITLV  Vol. 149 No. 2 (1993).

Tim hanya mampu menjelaskan bahwa adat memburu kepala musuh merupakan bagian tak terpisahkan dari ritus hidup orang Alifuru tanpa diketahui kapan mulanya. Bagi orang Alifuru, memburu kepala musuh telah menempati posisi penting dalam kehidupan sosial dan kepercayaannya.
Anehnya, adat itu tak mereka lakukan terhadap orang asing, baik Eropa maupun wilayah Nusantara lainnya. 

Penerimaan mereka terhadap orang asing sangat baik. Bahkan, mereka bersedia merundingkan perdamaian melalui perantara VOC meski usaha itu akhirnya gagal.



--------
Uraian  di atas merupakan kajian sejarah yang menarik. Bisa saja kita keturunan dari mereka. Tapi, seperti disebut dalam catatan Marco Polo: saat menerima kedatangan agama, contohnya Islam maka perilaku berubah jadi lebih beradab.

Maka, apakah sekarang kita mau belajar memperbaiki atau malah terjebak mengulang kebiadaban seperti masa lalu? Bisa jadi, tafsir dan sentimen atas nama agama malah mengeluarkan kembali "gen biadab" lalu bertindak irrasional. Contoh nyata terlihat pada aksi gerombolan, ormas yang brutal, kan? Atau komentar penuh emosi di forum dan jejaring sosial internet.

Bukankah kita lebih baik bertransformasi, jadi "pemburu kepala" yang mencari manusia-manusia pintar untuk memajukan teknologi sehingga sumber daya alam bisa digunakan optimal untuk kesetaheraan rakyat, dan jadi bangsa yang mandiri?














Sumber:
historia

Minggu, 26 Januari 2014

Penemuan Baru, Perahu Nuh Berbentuk Bulat dan Terbuat dari Alang-alang

Jika ada perahu yang paling masyhur di seluruh dunia sepanjang masa, barangkali adalah perahu Nabi Nuh. Dalam kitab-kitab suci disebutkan, perahu besar ini menyelamatkan masing-masing sepasang dari setiap binatang dan beberapa manusia dari bencana banjir besar.

ilustrasi

Kini, muncul teori baru tentang perahu itu; tak berbentuk lebar memanjang seperti layaknya perahu, melainkan bulat. Selain itu, juga tak terbuat dari kayu, melainkan dari alang-alang.

Klaim ini muncul setelah ilmuwan berhasil memecahkan teka-teki sebuah benda persegi dari tanah liat yang diyakini berusia 4.000 tahun dari zaman Mesopotamia kuno. Benda persegi itu ditemukan seseorang selama Perang Dunia II di Irak, sebelum kemudian disimpan di sebuah museum di London.


Irving Finkel, kurator yang bertanggung jawab atas tablet tanah liat runcing itu di British Museum itu, menyatakan perahu Nuh kemungkinan terbuat dari ilalang dan aspal. Hal ini terungkap dalam teks yang terdapat dalam tanah liat itu.

Atram-Hasis, raja Sumeria yang diyakini adalah Nuh, diperintah untuk membakar rumah dan membuat perahu demi menyelamatkan diri dari banjir besar.

Teks dengan huruf Babilonia kuno ini menggambarkan bagaimana membangun bahtera dengan diameter 220 kaki, atau sekitar 67 meter dengan tinggi dinding 20 kaki, atau setara 6,09 meter.


Menurut teks yang terdapat dalam tanah liat itu, bahtera Nuh memiliki dua tingkat dan atap di atas. Dalam teks 60 baris ini, yang digambarkan Dr Finkel sebagai 'panduan konstruksi rinci untuk membangun sebuah bahtera', perahu dibuat dengan menyatukan alang-alang dengan menggunakan tali, sebelum kemudian diolesi dengan aspal untuk membuatnya tahan air.


Tablet ini dipamerkan di British Museum mulai hari ini. Ilmuwan akan merekonstruksi pembuatan perahu sesuai petunjuk di dalamnya, untuk melihat apakah bahtera itu benar-benar bisa berlayar.


Sumber :
tempo

Kamis, 19 Desember 2013

Wow, Ditemukan Kandungan Berlian Dalam Jumlah Besar di Antartika

Ilmuwan menemukan jenis batuan langka berwarna kebiruan yang bernama kimberlite di salah satu gunung di Antartika yang menjadi pertanda awal terdapatnya berlian.

Keberadaan kimberlite telah lama menjadi petunjuk adanya berlian di Siberia, Afrika, dan Australia. Kini, untuk pertama kalinya, ilmuwan menemukannya di Antartika.

Kimberlite Stone

"Akan mengejutkan bila tidak ada berlian di kimberlite ini," kata Greg Yaxley dari Australia National University di Canberra yang memimpin riset seperti dikutip Reuters.

Mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal Nature Communcations, Yaxley mengatakan bahwa kimberlite ditemukan di Gunung Meredith, Pegunungan Prince Charles, Antartika Timur.

Meski kemudian penemuan ini memunculkan harapan penambangan berlian di Antartika, upaya mewujudkannya masih jauh dari harapan.

 
Pegunungan Antartika

"Fakta adanya kimberlite 'Grup satu' penting karena berlian memang sangat mungkin ditemukan di tipe kimberlite hasil erupsi ini," kata Teal Riley dari British Antartic Survey seperti dikutip BBC.

"Namun, bahkan dalam kimberlite Grup Satu, hanya 10 persen yang secara ekonomi bisa tampak, jadi masih sulit mengekstrapolasi hasil riset ini ke soal pertambangan berlian," imbuhnya.

Selain hambatan tersebut, ada pula hambatan legal yang membuat penambangan sulit dilakukan di Antartika, walaupun jumlahnya melimpah.

Ada Protocol on Envrironment Protection to the Antartic Treaty yang dibuat pada tahun 1991 yang secara jelas melarang aktivitas penambangan di sana.

Protokol akan dievaluasi lagi pada tahun 2041. Bila nantinya ada perubahan keputusan, barulah penambangan berlian dimungkinkan.


Sumber :
kompas

Senin, 02 Desember 2013

Peneliti Temukan Jamban Raksasa Berusia 240 Juta Tahun

Peneliti Argentina menemukan sebuah jamban raksasa kuno yang menjadi tempat binatang purba membuang kotoran mereka.


Dari penanggalan yang dilakukan peneliti, usia jamban itu diduga sekitar 240 juta tahun. Usia itu memecahkan rekor jamban kuno sebelumnya, yang lebih muda 20 juta tahun. Jamban itu bahkan lebih tua dari jamban mamalia.

Dilansir ABC.net.au, peneliti National Council of Scientific and Technical Investigation Argentina, Lucas Fiorelli, melaporkan jamban kuno ditemukan di barat laut Argentina.



Pada situs itu, peneliti menemukan 30.000 kotoran prasejarah, yang panjangnya beragam dari 0,5 hingga 35 cm. Pada beberapa titik, kotoran kuno itu bahkan menumpuk hingga 100 meter persegi.

Dalam pengujian lebih rinci, kotoran itu merupakan sisa dari keluarga Dicynodontes, reptil raksasa pemakan tumbuhan yang hidup dekat dengan masa dinosaurus awal.


"Ini merupakan bukti pertama jamban komunal mega herbivora pada binatang bertulang belakang non-mamalia. Ini mengindikasikan perilaku ini telah ada dalam kerabat jauh mamalia," tulis laporan penelitian itu.

Peneliti menduga kotoran itu memiliki beberapa fungsi penting. Di antaranya, fungsi kebersihan. Pembuangan kotoran dalam satu titik, kata peneliti bisa mencegah munculnya parasit baru. Selain itu jamban itu juga menjalankan fungsi keamanan, membatasi predator yang berliaran.


Sumber :
viva
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Blogger Templates