Social Icons

Pages


Tampilkan postingan dengan label astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label astronomi. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Februari 2014

Suara Pembunuh di Laboratorium

Di Belanda ada sebuah laboratorium milik Large European Acoustic. Laboratorium ini diklaim bisa membunuh manusia. Penyebabnya adalah suara mesin roket yang bisingnya setara dengan suara  1 ton bom TNT.

 


Lalu kenapa ilmuwan repot-repot membuat ruangan yang mereproduksi suara roket? ternyata ini berkaitan dengan program luar angkasa. Suara roket yang keras ternyata bisa merusak struktur satelit, untuk memastikan satelit bisa bertahan selama perjalanan ilmuwan mensimulasikan kondisi tersebut di dalam ruangan ini.

Jika sebuah satelit bisa rusak karena kerasnya suara roket pantas saja kalau LEA mengklaim manusia tidak bisa bertahan di dalam ruangan ini. Untungnya saja ruangan ini sudah dilengkapi pengaman khusus agar suara yang dihasilkan tidak keluar dari ruangan.

 



Ruangan ini memiliki tinggi 50 kaki, cukup ruang untuk menggantung sebuah satelit atau roket. Di sekelilingnya terdapat lubang-lubang yang merupakan speaker raksasa, di injeksi dengan gas Hidrogen, mampu menghasilkan suara sampai 154 desibel. Selama speaker menyala para ilmuwan mengecek Vibration Stress melalui kawat-kawat yang tersambung ke struktur satelit.












Senin, 10 Februari 2014

Belajar Mengenal Asteroid dari "Kacang" Itokawa

Selama ini yang diketahui, asteroid itu merupakan obyek yang disusun oleh logam, batuan, es, dan elemen-elemen yang tidak mudah ditemukan di Bumi.   Tapi, ada apa di balik asteroid? Bagaimana strukturnya? Apa bahan pembentuknya dan bagaimana ia terbentuk?

Peneliti telah melakukan riset dengan berbagai cara. Misalanya melalui pengamatan yang  dilakukan oleh Stephen Lowry dan timnya, pada asteroid dekat Bumi (25143) Itokawa dengan menggunakan New Technology Telescope (NTT) milik ESO, di Observatorium La Silla, Chille.

 


Pengukuran kecepatan rotasi dan laju perubahan rotasi berhasil dilakukan setelah menelaah citra Itokawa yang diambil NTT sejak tahun 2001-2013.  Telaah citra dilakukan untuk mengukur variasi kecerlangan Itokawa saat asteroid berbentuk kacang tersebut berrotasi. Data tersebut kemudian digunakan untuk mengukur periode rotasi dan perubahan laju rotasinya.

Setelah itu, para astronom juga menggabungkan data yang ada dengan pengetahuan akan bentuk asteroid Itokawa. Hasil kunjungan Wahana Hayabusa milik Jepang pada tahun 2005 mengungkap bentuk kacang dari asteroid Itokawa. Dari sinilah para astronom  bisa mempelajari susunan bagian dalam asteroid, yang ternyata memiliki susunan inti yang kompleks. Tak hanya itu, diketahui juga kalau setiap bagian pada asteroid Itokawa memiliki kerapatan yang berbeda.


 
Bagaimana asteroid berrotasi?
Rotasi asteroid dan benda kecil lainnya di angkasa dipengaruhi banyak hal, salah satunya  cahaya Matahari. Fenomena inilah yang dikenal sebagai efek Yarkovsky-O’Keefe-Radzievskii-Paddack (YORP). Fenomena YORP terjadi saat cahaya dari Matahari dipancarkan kembali dari permukaan sebuah obyek dalam bentuk panas.

Jika bentuk obyeknya tidak teratur seperti halnya asteroid, panas yang diradiasikan dari permukaan asteroid tidak akan seragam sehingga menimbulkan torka pada obyek yang menyebabkan terjadinya perubahan laju rotasi. 

Hasil perhitungan menunjukkan, secara perlahan efek YORP menyebabkan percepatan laju perputaran asteroid Itokawa. Akibatnya, terjadi perubahan periode rotasi sebesar 0,045 detik setiap tahunnya. Laju perubahan yang sangat kecil namun berbeda dari dugaan sebelumnya. Diduga perbedaan tersebut terjadi karena kerapatan yang berbeda antara dua bagian asteroid Itokawa.
 



Bagaimana sebuah asteroid terbentuk?
Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan sebuah obyek berakhir sebagai asteroid.  Obyek kecil yang bisa membahayakan Bumi tersebut diduga terbentuk dari hancurnya sebuah obyek besar akibat tabrakan yang dialaminya atau terbentuk dari kumpulan batuan-batuan kecil yang terikat secara gravitasi. 

Untuk asteroid Itokawa, hasil pengamatan menunjukkan, asteroid ini terbentuk dari penggabungan dua asteroid.  Pengetahuan terkait pembentukan asteroid menjadi komponen penting dalam mempelajari sifat si asteroid dan bagaimana ia bergerak dan berinteraksi dengan obyek lain di angkasa.

Kondisi interior asteroid yang beragam dan heterogen justru memberi implikasi pada model pembentukan asteroid ganda dan memberi informasi yang bisa membantu mengurangi bahaya tabrakan asteroid dengan Bumi.

Tak hanya itu, informasi yang diperoleh juga dapat digunakan untuk merencanakan perjalanan kunjungan ke asteroid di masa depan. Yang pasti, kemampuan untuk mempelajari struktur bagian dalam asteroid merupakan langkah maju yang bisa membawa astronom untuk mengungkap rahasia obyek misterius ini.











Sumber:
langitselatan
spaceref
sci-news.

Sabtu, 14 Desember 2013

Tertangkap Satelit, Bulan Jupiter "Menyemburkan" Air

Bulan Jupiter yang telah lama diduga berpotensi mendukung kehidupan, Europa, ketahuan "menyemburkan" air hingga ketinggian yang melebihi Everest. Teleskop antariksa Hubble milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menangkapnya.


Dalam publikasi di jurnal Science, ilmuwan menyatakan bahwa citra Hubble menunjukkan adanya surplus hidrogen dan oksigen di belahan Bumi selatan Europa. Bila terkonfirmasi bahwa bahan kimia itu adalah air, maka ada harapan besar lautan di underground Europa bisa diakses.

"Keberadaan air telah memicu ilmuwan untuk berspekulasi bahwa Europa yang kita kenal hari ini menyimpan kehidupan," kata James Green, pimpinan studi ilmu keplanetan NASA, seperti dikutip BBC.

"Uap yang disemburkan menarik perhatian bila memang ada di sana, uap itu membawa molekul dari lautan di Europa. Mungkin ada lebih banyak material organik yang ada di permukaan Europa," imbuh Green.

Ilmuwan menemukan adanya uap air pada citra Europa yang diambil teleskop Hubble pada November dan Desember 2013, serta pada tahun 1999. Uap air yang dimaksud berupa unsur hidrogen dan oksigen.

"Itu konsisten dengan dua semburan uap air setinggi 200 km," ungkap Lorenz Roth dari Southwest Research Institute di San Antonio, Texas. Setiap detik, sekitar 7 ton material disemburkan ke atmosfer Europa.


Europa

Kurt Retherford yang juga dari Southwest Research Institute di San Antonio mengatakan bahwa jumlah semburan itu mengagumkan. "Itu bergerak dengan kecepatan 700 meter per detik. Semua gas itu keluar, hampir semuanya kembali lagi, tidak lepas ke antariksa," katanya.

Semburan uap air itu tampaknya bersifat sementara, terjadi selama kurang lebih tujuh jam sekali waktu. Puncaknya terjadi ketika Europa mencapai jarak paling jauh dengan Jupiter, serta sebaliknya.

Karena fakta tersebut, ilmuwan menduga bahwa semburan uap air itu mungkin dipengaruhi oleh gravitasi Jupiter. Gravitasi mampu membuat es di permukaan Europa retak, memicu semburan uap air.


Teleskop Hubble

Hasil penelitian tentang Europa ini dipresentasikan di pertemuan American Geophysical Union yang berlangsung di San Fransisco, Kamis. Meski ada fakta baru terkuak, ternyata masih banyak pertanyaan yang tersisa.

"Berapa tebal es di Europa? Apakah ada danau atau kolam di lapisan es itu? Apakah retakan es cukup dalam? Apakah cukup dalam hingga menyentuh lapisan air cair di bawahnya?" demikian dinyatakan Retherford.

NASA sebenarnya merencanakan misi penjelajahan ke Europa lewat Europa Clipper. Namun, karena keterbatasan dana, misi itu sulit diwujudkan dalam waktu singkat. Dunia mungkin harus bergantung pada misi penjelajahan Europa, misi Juice.

Juice akan diluncurkan pada tahun 2022. Satelit itu akan mendekati Europa. Bila beruntung, misi bisa mengambil sampel uap dan menelitinya. Pengambilan sampel belum pasti bisa dilakukan sebab Juice akan mendekat di wilayah ekuator Europa, sementara semburan ada di belahan selatan.


Sumber :
kompas

Selasa, 03 Desember 2013

Matahari Mulai Meredup, Bagaimana Dampaknya Dengan Kehidupan di Bumi?

Kini para ilmuwan sedang memantau aktivitas matahari yang tercatat berada pada posisi "Terjun bebas" atau "Freefall". Disebutkan freefall karena hal ini merupakan masa dimana matahari sedang 'mendingin' dari kondisi biasanya.

Seperti yang dilansir oleh Washington Post, para fisikawan sendiri menganggap bahwa ini merupakan fenomena yang langka. Namun, meski begitu diperkirakan tidak akan mengganggu kehidupan di bumi seperti pada masa zaman es.

"Aktivitas matahari saat ini sedang menurun sangat cepat, kami menghitung bahwa ini merupakan penurunan paling cepat yang pernah terjadi selama 9.300 tahun," kata peneliti dari Reading University.

Para peneliti kemudian mencoba menghubungkan fenomena ini dengan adanya Grand Solar Minimum yang biasanya terjadi setiap 4 abad.

Grand Solar Minimum adalah periode aktivitas matahari dalam 11 tahun siklus matahari. Selama waktu ini, aktivitas titik hitam (sunspot) dan lidah api (flare) berkurang dan tidak terjadi selama berhari-hari pada suatu rentang waktu. Akibatnya, musim panas yang terjadi di belahan bumi utara pun akan berbeda dari biasanya.

Area gelap di matahari sudah terjadi sejak bulan Juli 2013 (SOHO/NASA)


Terakhir kali siklus ini terjadi pada abad 17 lalu. Saat itu, selama 70 tahun, matahari tak menunjukkan satupun titik matahari. Pada masa itu juga tercatat Eropa memiliki musim dingin paling parah dalam sejarah, bahkan bisa disamakan dengan zaman es kecil.

Untuk Grand Solar Minimum yang akan terjadi pada saat ini diperkirakan takkan separah yang terjadi pada abad 17 lalu. Hal ini dikarenakan adanya pemanasan global yang dampaknya lebih parah.


Area Gelap Raksasa Tampak di Matahari

Sedangkan Wahana antariksa Solar and Heliospheric Observatory (SOHO) mendapati sebuah lubang raksasa di atmosfer matahari. Area gelap yang dikenal sebagai lubang korona ini mencakup hampir seperempat bagian matahari dan memuntahkan material dan gas ke ruang angkasa.


Lubang korona mulai terlihat di bagian kutub utara matahari antara 13-18 Juli 2013 lalu.


Dalam video yang dirilis Selasa, 30 Juli 2013 lalu, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyatakan lubang korona merupakan daerah yang lebih dingin ketimbang atmosfer matahari atau korona dan mengandung material surya yang kecil.

Di area yang kosong ini, alih-alih kembali ke permukaan matahari, medan magnet matahari justru terlempar keluar menjadi badai matahari.

"Meski belum jelas penyebabnya, lubang korona berkorelasi ke area tempat medan magnet melambung dan terlepas," kata Karen Fox, ilmuwan NASA di Pusat Penerbangan Antariksa Goddard di Greenbelt, Amerika Serikat.

Fox menambahkan lubang korona mempengaruhi cuaca di ruang angkasa karena mengirimkan partikel matahari sekitar tiga kali lebih cepat daripada yang dilepaskan dari area lain pada atmosfer matahari.


Fase Matahari Membalikkan Medan Magnet

Perubahan frekuensi kemunculan lubang korona bisa dibilang sesuai dengan siklus aktivitas matahari. Tahun ini matahari mencapai puncak aktivitasnya dalam 11 tahun, dikenal sebagai fase matahari maksimum atau Grand Solar Maximum.

Periode Grand Solar Maximum atau Solar Max ialah periode normal aktivitas matahari terbesar dalam siklus 11 tahunan Matahari.


Citra Matahari EIT 284

Citra satelit atmosfer matahari pada panjang gelombang cahaya 284 Angstrom yang berfungsi untuk menampilkan material matahari. Suhu terpanas sekitar 2 juta derajat Kelvin.

Selama Solar Maksimum, sejumlah besar bintik matahari muncul dan output radiasi matahari tumbuh sekitar 0,07%. Peningkatan output energi surya maxima dapat berdampak iklim global bumi dan studi terbaru menunjukkan beberapa korelasi dengan pola cuaca regional.

Di sekitar waktu puncak aktivitas inilah matahari membalikkan medan magnetnya. "Jumlah lubang korona biasanya menurun seiring perubahan medan magnet ini," ujar Fox. Setelah pembalikan medan magnet, lubang korona akan kembali muncul di dekat kutub.

Kemudian saat matahari mendekati aktivitas minimum lagi, lubang korona merayap lebih dekat ke khatulistiwa. Jumlah dan ukurannya lantas bertambah.

Wahana antariksa SOHO telah mengamati aktivitas matahari sejak diluncurkan tahun 1995. Wahana seharga US$ 1,27 miliar ini mengemban misi bersama antara NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA).

SOHO mengamati matahari dari orbit Lagrange Point 1, daerah dengan gravitasi stabil antara bumi dan matahari, sekitar 1,5 juta kilometer dari bumi.

Latest GOES Solar X-ray Image


Sumber :
indocropcircles

Rabu, 08 Desember 2010

Embrio Calon Matahari Baru Telah Ditemukan

Sebuah calon bintang raksasa dengan massa jauh lebih besar dibanding Matahari di tata surya ini sedang tumbuh dalam sebuah gelembung gas. Gambar embrio bintang tersebut terekam oleh teleskop Herschel milik Badan Luar Angkasa Eropa (ESA).

Berita luar angkasa dari hasil tangkapan Teleskop Herschel cukup membuat perhatian lebih para peneliti di dunia, karena teleskop tersebut berhasil menangkap embrio bintang baru yang berada di tata surya kita. Bintang tersebut bisa kita sebut sebagai sang Matahari baru karena jika di perhatikan dan di teliti untuk ukuran jika sudah terbentuk nanti bisa saja besar nya akan melebihi matahari yang sudah ada dalam susunan tata surya bima sakti kita, waah masa nanti ada dua matahari yah, aneh.

Diberitakan dari laman stasiun televisi BBC, citra gelembung gas yang disebut RCW 120 itu dirilis beberapa hari menjelang peringatan satu tahun peluncuran teleskop Herschel ke orbit. ESA meluncurkan teleskop Herschel pada 14 Mei 2009.

Detektor inframerah milik Herschel mampu melihat materi bersuhu rendah yang bisa melahirkan bintang. Citra seperti RCW 120 akan membantu menjelaskan bagaimana proses sebuah bintang raksasa terbentuk. Calon bintang raksasa dalam citra teleskop tersebut tampak seperti sebuah gumpalan putih di tepi bawah gelembung. Embrio itu diperkirakan bisa tumbuh menjadi salah satu bintang terbesar dan yang paling cerah di galaksi dalam ratusan ribu tahun mendatang. 

Calon bintang raksasa tersebut sudah memiliki massa sekitar delapan hingga sepuluh kali lebih besar dibanding massa Matahari, dan dikelilingi begitu banyak material.

Bila lebih banyak gas dan debu berjatuhan di bintang tersebut, objek itu berpotensi menjadi salah satu objek raksasa dalam Galaksi Bima Sakti, dan akan berpengaruh bagi lingkungan sekitarnya.

"Ini merupakan bintang besar yang mengontrol evolusi kimia dan kedinamisan galaksi," terang ilmuwan Herschel, Dr. Annie Zavagno, dari Laboratoire d'Astrophysique de Marseille.

"Ini merupakan bintang besar yang menciptakan elemen berat seperti besi dan elemen-elemen tersebut akan berada di ruang antar bintang. Dan karena bintang-bintang besar mengakhiri hidup mereka dengan ledakan supernova, mereka juga menyuntikkan energi besar ke galaksi," lanjut Zavagno.

Herschel memiliki kemampuan unik yakni mampu melihat proses fisik yang tidak bisa dilakukan teleskop lain. Teleskop Hubble misalnya, tidak bisa melihat secara detail seperti yang dihasilkan Herschel.

Sumber : www.suaramedia.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Blogger Templates