Social Icons

Pages


Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Mei 2018

9 Pilar Kesuksesan Yang Sering Anda Lupakan

9 Pilar Kesuksesan Yang Sering Anda Lupakan, ?ini adalah ebook paling introspektif yang ada saat ini. Taukah Anda kesuksesan ditentukan 80% oleh faktor non-teknis, sisanya baru dipengaruhi hal teknisnya.

Ada banyak faktor-faktor tak terlihat (non-teknis) seperti kondisi psikologis ; kebiasaan ; pola pikir ; kontrol emosi ; sikap ; disiplin dan lain sebagainya, yang bila faktor tersebut digabungkan, seringkali menjadi penentu hasil akhir. Faktor-faktor tak terlihat tersebut lebih menentukan dibanding faktor teknis seperti skill dan kemampuan individu.

Dalam ebook format pdf setebal 150+ halaman ini, Anda akan menguasai faktor-faktor non-teknis apa yang perlu Anda tanamkan agar Anda bisa meraih kesuksesan, dimana faktor non teknis ini jarang sekali dibahas secara detail.

ebook ini cocok untuk semua kalangan dari berbagai profesi, baik dari kalangan pengusaha, pebisnis, internet marketer, karyawan, pegawai negeri, dokter, marketing, mahasiswa, bahkan bagi para pengangguran sekalipun.

Senin, 08 Desember 2014

5 Fakta Motivasi Kita Bisa Jadi Orang Sukses

Tahukah kamu bahwa sebenarnya tidak ada batasan atau ketentuan untuk menjadi sukses? Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan. Inilah fakta-fakta yang layak direnungkan.



1. Kesuksesan tak ada kaitannya dengan usia

 
Nelson Mandela / telegraph co.uk

Nelson Mandela, jadi presiden usia 76 tahun
Kolonel Sanders (KFC), mulai bisnis umur 65 tahun
Winston Churchill, banyak gagal dan hambatan, baru jadi PM Inggris usia 52 tahun.
Bill Gates, terkaya di dunia usia 41 tahun


 
2. Kesuksesan tak ada kaitannya dengan Ras dan kondisi ekonomi

 
Charles dicken / telegraph.co.uk


Obama, Presiden Amerika Serikat saat ini, berkulit hitam
Jenderal Colin Powell, Martin Luther King : kulit hitam
Confusius, anak yatim di Cina
Charles dickens, penulis cerita kanak-kanak Inggris, menulis di gudang, banyak naskahnya dibuang ke tong sampah oleh editornya.



3. Kesuksesan tak ada kaitan dengan keterbatasan fisik.

 
Napoleon / bbc.co.uk
 
Hellen Keller: tuna netra, tuna rungu, penulis dan pendidik terkenal dunia.
Shakespeare: cacat kaki, penulis novel.
F.D. Roosevelt: terkena polio, presiden ke-32 di Amerika Serikat
Beethoven: tuna rungu, komposer musik.
Napoleon Bonaparte : sangat pendek, wajah tidak menarik, pemimpin pasukan penakluk Eropa.
Anthony Robbins: Lulusan SMA, kegemukan, merubah persepsi tentang penampilan dan cara diet, akhirnya berhasil langsing, lalu jadi motivator terkenal dunia.



4. Tingkat pendidikan bukan jaminan sukses

 
Li Ka Shing / smh.com


Thomas Alfa Edison : pendidikan SD, 2000 paten.
Li Ka Shing: berhenti sekolah umur 14 tahun, orang terkaya di Hongkong.
Henry Ford : tidak pernah duduk di bangku sekolah
The Wright Brother : orang biasa dan tidak berpendidikan tinggi, menciptakan pesawat terbang pertama di dunia.
Bill Gates, orang terkaya didunia memulai bisnis setelah lulus SMA.
Lawrence Ellison : drop out universitas, pendiri Oracle Corp, orang terkaya kedua didunia.


 
5. Kesuksesan tak ada hubungannya dengan latar belakang keluarga

 
Walt Disney / awardsnightoc.com


Andrew Carnegie : bekerja usia 13 tahun, keluarga sangat miskin, menjadi Raja Besi Baja dunia.
Walt disney : usia 20 tahun pemuda miskin dan tidak terkenal, usia 30 tahun jadi usahawan terkenal.
Abrahan Lincoln lahir dari keluarga miskin
Napolean Hill dilahirkan di keluarga miskin, ibunya meninggal saat dia kecil, jadi guru motivasi terkenal dunia, bukunya Think and Grow Rich : menjadi acuan pertama bagi para motivator dunia.
Bill Clinton : ayahnya meninggal ketika masih kecil, adiknya terlibat obat terlarang.

Tentunya, fakta-fakta di atas tidak seharusnya kita telan mentah-mentah, melainkan sekadar pandangan baru, bahwa terlepas siapapun kita sekarang ini, pasti bisa menjadi pribadi yang sukses. Kita semua memiliki peluang yang sama, untuk itu jangan buang kesempatan dalam meraih kesuksesan.













 

Sabtu, 29 November 2014

9 Langkah Mengembangkan Sikap Positif

Berpikir positif agar menjalani hari-hari dalam hidup lebih baik. Nasehat ini seringkali tak mudah pada prakteknya. Masalah yang muncul, hal-hal yang menyakiti hati dengan mudah memosisikan kita sebagai korban dari kejamnya hidup.

Hidup memang kejam, tapi toh kita tetap harus menjalaninya. Maka yang terbaik tentu jangan kalah terus-menerus. Dasar utama untuk kembali bangkit harus dimulai dalam otak kita, mengembangkan sikap berpikir positif.

 


Penulis Jessica Padykula membeberkan 9 langkah yang bisa kita coba untuk mengatasi pikiran negatif.



1. Hidup di saat ini
Memikirkan masa lalu atau masa depan adalah hal yang sering membuat kita cemas. Jarang sekali kita panik karena kejadian masa sekarang. Jika Anda menemukan pikiran anda terkukung dalam apa yang telah terjadi atau apa yang belum terjadi, ingatlah bahwa hanya masa kini yang dapat kita kontrol.


2. Katakan hal positif pada diri sendiri
Katakan pada diri Anda bahwa Anda kuat, Anda mampu. Ucapkan hal tersebut terus-menerus, kapanpun. Terutama, mulailah hari dengan mengatakan hal positif tentang diri sendiri dan hari itu, tidak peduli jika hari itu Anda harus mengambil keputusan sulit ataupun Anda tidak mempercayai apa yang telah Anda katakan pada diri sendiri.


3. Percaya pada kekuatan pikiran positif
Jika Anda berpikir positif, hal-hal positif akan datang dan kesulitan-kesulitan akan terasa lebih ringan. Sebaliknya, jika Anda berpikiran negatif, hal-hal negatif akan menimpa Anda. Hal ini adalah hukum universal, seperti layaknya hukum gravitasi atau pertukaran energi. Tidak akan mudah untuk mengubah pola pikir Anda, namun usahanya sebanding dengan hasil yang bisa Anda petik.


4. Jangan berdiam diri
Telusuri apa yang membuat Anda berpikiran negatif, perbaiki, dan kembali maju. Jika hal tersebut tidak bisa diperbaiki lagi, berhenti mengeluh dan menyesal karena hal itu hanya akan menghabiskan waktu dan energi Anda, juga membuat Anda merasa tambah buruk. Terimalah apa yang telah terjadi, petik hikmah/pelajaran dari hal tersebut, dan kembali maju.


 


5. Fokus dan tulis hal-hal positif
Ketika kita sedang sedang berpikiran negatif, seringkali kita lupa akan apa yang kita miliki dan lebih berfokus pada apa yang tidak kita miliki. Buatlah sebuah jurnal rasa syukur. Tidak masalah waktunya, tiap hari tulislah lima enam hal positif yang terjadi pada hari tersebut. Hal positif itu bisa berupa hal-hal besar ataupun sekadar hal-hal kecil seperti 'hari ini cerah' atau 'makan sore hari ini menakjubkan'. Selama Anda tetap konsisten melakukan kegiatan ini, hal ini mampu mengubah pemikiran negatif Anda menjadi suatu pemikiran positif. Dan ketika Anda mulai merasa berpikiran negatif, baca kembali jurnal tersebut.


6. Bergeraklah
Berolahraga melepaskan endorphin yang mampu membuat perasaaan Anda menjadi lebih baik. Apakah itu sekadar berjalan mengelelingi blok ataupun berlari sepuluh kilometer, aktifitas fisik akan membuat diri kita merasa lebih baik. Ketika Anda merasa down, aktifitas olahraga lima belas menit dapat membuat Anda merasa lebih baik.


7. Hadapi rasa takut
Perasaan negatif muncul dari rasa takut, makin takut Anda akan hidup, makin banyak pikiran negatif dalam diri Anda. Jika Anda takut akan sesuatu, lakukan sesuatu itu. Rasa takut adalah bagian dari hidup namun kita memiliki pilihan untuk tidak membiarkan rasa takut menghentikan kita.


 


8. Coba hal-hal baru
Mencoba hal-hal baru juga dapat meningkatkan rasa percaya diri. Dengan mengatakan ya pada kehidupan Anda membuka lebih banyak kesempatan untuk bertumbuh. Jauhi pikiran 'ya, tapi...'. Pengalaman baru, kecil atau besar, membuat hidup terasa lebih menyenangkan dan berguna.


9. Ubah cara pandang
Ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik, cari cara untuk melihat hal tersebut dari sudut pandang yang lebih positif. Dalam setiap tantangan terdapat keuntungan, dalam setiap keuntungan terdapat tantangan.




 












Sumber:

Rabu, 05 November 2014

Kisah Tragis Manusia Super Jenius

Menjadi jenius mungkin dambaan mayoritas manusia. Masalahnya, pengharapan sekaligus tekanan berlebih bisa mengorbankan hidup orang yang berotak super. Contoh paling tragis terekam pada kisah William J Sidis, si jenius ber-IQ 250 - 300.

Mungkin belum banyak yang mengenal nama William J Sidis. Kisah berikut akan menjelaskan siapa, apa, dan bagaimana kiprahnya di dunia keilmuan. Sebuah dunia yang mendewakan manusia-manusia super cerdas, lalu lalai pada sisi kemanusiaan itu sendiri.



Berawal dari Boris dan Sarah Sidis, pasutri Yahudi Ukraina yang menjadi imigran ke Amerika Serikat di akhir abad 19 akibat tekanan politik dan agama di negara asal mereka.  Boris dan Sarah kemudian menetap di New York. Dalam waktu singkat, Boris menjadi psikolog cukup terkenal berkat metode hipnosis. Sarah menjadi dokter, dan di jaman itu ia satu-satunya perempuan yang mendapat gelar dokter. Karir pasutri ini sangat cemerlang.

Apakah semua cukup? Belum. Mereka menginginkan anak-anak yang bakal mewarisi kecemerlangan otak mereka. Dan, pada tanggal 1 April 1898, Sarah melahirkan anak pertama pasangan itu , William James Sidis .

Sejak kecil, pendidikan (atau pembentukan? pen.) William dimulai begitu intens. Tabungan keluarga digunakan untuk buku, mainan, serta perlengkapan lain yang bisa mendorong sang anak berkembang cepat. Memanfaatkan teknik psikologi inovatif Boris , William diajarkan untuk mengenal dan mengucapkan huruf dari alfabet dalam beberapa bulan. Si kecil sudah bisa berbicara seperti "door" (pintu) saat usianya 6  bulan. Serta terampil makan sendiri dengan sendok ketika 8 bulan.

Apa bayangan Anda tentang William? ya, anak ajaib. Demikian pula Boris dan Sarah, mereka sangat bangga. Bayangkan, saat menginjak usia 2 tahun William sudah bisa membaca harian New York Times dan mengetik dengan  bahasa Inggris dan Perancis.


Sisi negatifnya, pelatihan berlebih ditambah atensi media (berkat Sarah yang suka menulis jurnal memamerkan keberhasilan anak mereka) mengakibatkan William kehilangan sisi "anak" yang seharusnya bermain dengan teman seusianya. Di usia 9 tahun ia sudah diterima di Harvard, walau pihak kampus menolaknya hadir di kelas karena secara emosional ia belum dewasa.

Orang tua William menekan Harvard dengan menuliskan kisah tersebut hingga dimuat di halaman pertama New York Times. Lalu Tufts College juga mengaku pada publik bahwa William mengoreksi  kesalahan dalam buku-buku matematika dan mencoba untuk menemukan kesalahan dalam teori relativitas Einstein.

Akhirnya Harvard menyerah, William pun bisa kuliah. Ia terdaftar sebagai mahasiswa ketika usianya mencapai 11 tahun.


Boston, 1910. 
Di puncak musim dingin, ratusan orang hadir mendengarkan bocah ajaib William J Sidis berbicara tentang dimensi ke-4 pada tubuh manusia. Kabar ini menyebar cepat, dunia terkesima. Media mendapat sumber berita paling sensasional. Wartawan pun terus menguntit William di kampusnya. Bagaikan selebritas, ia tak punya waktu privasi lagi.

Di usia 16 tahun akhirnya William lulus dari Harvard dengan predikat  cum laude. Membanggakan bagi orang tua dan publik, tapi tidak bagi William. Menurut penulis biografi Sidis Amy Wallace , William mengaku tidak pernah mencium seorang gadis. Suatu hal yang 'aneh' dalam budaya remaja Amerika. Saat wisuda, ia memberi pernyataan terbuka pada wartawan, "Saya ingin menjalani kehidupan yang sempurna. Satu-satunya cara untuk menjalani kehidupan yang sempurna adalah hidup dalam pengasingan. Saya selalu membenci orang banyak."

Setelah meninggalkan Harvard, masyarakat dan orang tuanya mengharapkan hal-hal besar dari William. Dia memang mengajar matematika di Rice University di Houston, Texas. Faktanya, usia William yang lebih muda dari semua siswanya mengakibatkan kesulitan dalam mengajar. Dia pun mengundurkan diri dan pindah kembali ke Boston.


Di saat yang sama, Amerika sebagai negara kapitalis bertolak belakang dengan haluan komunis. Sementara William justru berpaham sosialis, hal ini membawanya ke penjara di bulan Mei 1919 karena merancang demonstrasi sayap kiri. Dalam sel, ia bertemu Martha Foley seorang sosialis Irlandia. Cinta mereka berdua berjalan rumit, sehubungan dengan faham William yang 'unik' soal cinta, seni, dan seks hanyalah agen sebuah "kehidupan yang tidak sempurna."

Pengakuannya sebagai atheis dan sosialis di pengadilan menghasilkan hukuman 18 bulan penjara bagi William. Untung, pengaruh orangtuanya membuat ia keluar penjara. Ia lalu pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dan mengubah namanya agar tak ditemukan.

Selama dalam keterasingan hidupnya, ia menulis puluhan buku dengan nama samaran. Masa-masa inilah karya-karyanya terbilang fenomenal. Dalam The Animate and the Inanimate (1925), William mengklaim tentang wilayah gelap di alam semesta (teori yang sekarang berkembang soal dark matter, anti matter, dan black hole). Sidis juga menulis sejarah Amerika dari jaman prasejarah hingga 1928. Ia menyebut bahwa orang-orang kulit merah sebagai penduduk pribumi juga hidup di waktu yang sama ketika nenek moyang kulit putih berkembang di Eropa.

Penarikan diri William dari dunia, memutuskan kontak dengan orang tuanya, menggiring William dalam kesendirian sebagai anti-sosial. Meskipun media tetap berusaha menjadikannya sumber berita. Tulisan di The New Yorker tahun 1937 yang memuat tulisan seorang reporter wanita yang dikirim untuk berteman sambil mengorek rahasia hidup William merupakan aib terbesar dalam hidupnya. Penggambaran dirinya yang kekanak-kanakan, atau menangis di tempat kerja sungguh kisah memalukan. Tuntutan William pada The New Yorker sempat sampai ke Mahkamah Agung, bagaimanapun publik telah melihat 'kehancuran' William yang gagal menjadi seorang pria seperti seharusnya.

Akhirnya di sebuah hari saat musim panas bulan Juli 1944, William ditemukan tak sadarkan diri dalam apartemen kecilnya di Boston. Ia terserang stroke, otaknya sekarat. Tak pernah sadar lagi dan meninggal di usia 46 tahun. Satu kenangan yang tersisa hanya foto dalam dompetnya, foto Martha Foley...







[apakabardunia.com - dari berbagai sumber]

Kamis, 28 Agustus 2014

7 Miliarder Ini Lebih Memilih Hidup Sederhana Tanpa 'Embel-embel' Miliarder

Kekayaan memang merupakan satu hal yang ingin dimiliki oleh seluruh manusia di dunia ini. Dari kecil, beberapa orang pasti sudah memiliki cita-cita untuk mempunyai banyak uang dan juga harta. Uang memang merupakan hal yang dapat mewujudkan hampir semua hal yang kita inginkan.


Namun hebatnya, para miliarder ini justru tak merasa demikian. Seperti yang dilansir oddee.com, para miliarder ini bahkan meninggalkan semua kekayaan mereka dan memilih untuk tetap hidup sederhana. Wah! Seperti apa sih kisah menginspirasi ini?


1. PM Thailand Menyuruh Anaknya Bekerja di Restoran


Perdana Menteri Thailand ini benar-benar hebat dan berbeda dengan kebanyakan orang kaya lainnya. Yah, Thaksin Shinawatra merupakan orang kaya yang paling terpandang di negrinya.

Ia memiliki anak gadis yang tentu akan membuat Anda terkejut bukan main. Gadis cantik itu tidak memakai baju mewah, tidak pergi ke diskotik, ia justru bekerja sebagai karyawan di salah satu restoran.

Loh? Lantas mengapa gadis dari orang kaya itu hanya bekerja sebagai karyawan? Thaksin Shinawatra sengaja menyuruh putrinya untuk menjadi karyawan di McDonald Thailand. Hal ini rupanya dianggap sebagai pembelajaran bagi sang putri untuk paham bagaimana mencari uang dengan keringat sendiri.

Bahkan sesekali sang Ayah mengunjungi resto tempat putrinya bekerja dan membeli salah satu menu McDonald favoritnya.



2. Miliarder Tunawisma


Pria tampan dan juga kaya dari Jerman ini pasti akan menyentuh hati Anda. Yah, Nicholas Berggruen adalah orang kaya dengan kekayaan yang mencapai 20 miliar rupiah di tahun 2010.

Namun bukan itu yang lantas menjadi berita hangat di media. Pasalnya Nicholas merupakan miliarder yang tak memiliki rumah untuk tinggal.

Nicholas memutuskan untuk menjalani hidupnya secara natural dan apa adanya. Bahkan ia memutuskan untuk merogoh kocek banyak untuk disumbangkan sebagai amal sosial di berbagai daerah.

Baginya kekayaan adalah tentang apa yang telah Anda berikan pada dunia ini, bukan tentang berapa banyak uang atau barang yang Anda miliki.



3. Suster Kaya Yang Sederhana


Banyak yang mengatakan bahwa harta dan tahta dapat mengubah sifat orang hanya dalam sekejap. Dan nampaknya hal itu tak terjadi pada seorang suster bernama Karen Shand ini.

Wanita yang bekerja sebagai suster ini telah berhasil memenangkan hadiah berupa uang sebesar 15 miliar rupiah. Namun ia nampak santai saja!

Karen yang memiliki pendapatan yang jauh lebih kecil daripada hadiahnya mengaku sangat senang dan juga bangga. Akan tetapi, hadiah yang ia dapatkan itu tak akan membuat ia berhenti menjadi suster di Rumah Sakit Victoria di Inggris. Dan tentu saja hal ini membuat banyak orang yang merasa kagum akan keputusannya tersebut.



4. Memutuskan Tinggal di Gubuk Lumpur


Kebanyakan orang yang kembali dari berlibur di Kenya akan merasa miris dengan keadaan di sana. Terlebih bagi seorang kaya raya yang telah terbiasa dengan kehidupan mewah dan serba kecukupan. Akan tetapi hal ini jauh bertolak belakang dengan apa yang terjadi pada miliarder 57 tahun bernama Garham Pendrill ini.

Setelah menghabiskan waktu di Kenya, Graham justru kembali ke Inggris dengan berita yang sangat mengejutkan. Graham ingin menjual semua propertinya dan memutuskan untuk menghabiskan waktunya di Kenya. Bahkan Graham diketahui akan tinggal di sebuah gubuk kecil.



5. Uang Tak Membuat Pria Ini Bahagia


Karl Rabeder kecil merupakan pria yang lahir miskin dan hidup serba keterbatasan. Dan hal ini membuat ia berpikir bahwa ia ingin menjadi pria kaya nantinya. Impian itupun terkabul.

Akan tetapi Karl justru merasa bahwa kekayaan tak dapat membuat ia bahagia. Sehingga pria Perancis ini memutuskan untuk membagikan uangnya untuk amal dan memutuskan untuk menjual semua propertinya.

Karl bahkan memilih untuk hidup di sebuah pondok kayu kecil di pegunungan yang sangat tentram dan juga damai. Materi mungkin dapat memberikan kebahagiaan, namun tak semua kebahagiaan yang datangnya dari materi.



6. Miliarder Bekerja Sebagai Petugas Kebersihan


Wanita yang satu ini tentu sangat pantas memasuki salah satu daftar sebagai orang kaya paling unik sedunia. Bagaimana tidak, dengan pendapatan dalam beberapa bisnis di kotanya, wanita ini malah memilih untuk menjadi seorang pembersih jalan.

Ya, dia adalah Yu Youzhen seorang wanita di Cina yang rela bangun pukul 03.00 pagi untuk membersihkan jalan sepanjang 2 mil.

Ibu 53 tahun itu melakukan hal ini untuk membiasakan sang anak bekerja tanpa bergantung pada sang ibu. Padahal, akibat bisnis suksesnya, wanita ini memiliki properti yang bernilai hingga $1. 500.000 atau 10 miliar!

Tapi tentu hal itu tak membuatnya berhenti untuk mendidik kedua anaknya yang kini juga bekerja sebagai sopir taksi dan pegawai kantor.



7. Oprah, Wanita Kaya yang Sederhana dan Dermawan


Nah kini giliran salah satu seleb yang juga merupakan orang paling berpengaruh di dunia versi Forbes. Oprah Winfrey terlahir sebagai gadis kulit hitam yang hidup dalam kemiskinan.

Namun takdir berkata lain saat ia mulai terjun ke dunia siaran sebagai pembawa acara yang lantas melambungkan namanya hingga kini.

Oprah diperkirakan memiliki kekayaan sebesar 20 triliun rupiah di akhir tahun 2013. Namun hal ini tak membuat ia lantas berbangga dan sombong.

Oprah diketahui kerap membelikan mobil bagi karyawan televisinya, bahkan ia tak segan untuk memberi benda seharga jutaan kepada para penonton yang datang dalam berbagai acaranya.


Sumber :
vemale

Senin, 17 Februari 2014

Belajar dari Jamaika di Olimpiade Musim Dingin

Jamaika, negara tanpa salju itu mengejutkan Olimpiade Musim Dingin 2014 di Sochi, Rusia. Walau masih gagal, mereka tak pernah menyerah.

 


Di tahun 1993 pernah dibuat film Cool Running, kisah nyata tentang atlet bobsledding (atau Bobsleigh, yakni cabang olahraga meluncur di salju dengan menggunakan kereta salju) asal Jamaika yang berhasil merekrut mantan atlet Amerika Irv Blitze jadi Pelatih. Setelah melalui berbagai perjuangan, tim ini akhirnya bisa berangkat ke arena olimpiade tahun 1988.

Semenjak itu, tradisi Bobsleigh terus melekat di Jamaika.  Tahun ini adalah untuk kedua kalinya mereka lolos ke Olimpiade Musim Dingin sejak 12 tahun lalu. Tim Jamaika selalu ditunggu karena film Cool Running yang sukses itu. Banyak yang ingin tahu apakah di dunia nyata mereka bisa membuat kejutan seperti itu. Untuk mendorong semangat, tim bobsleigh Jamaika tahun ini dinamakan Cool Running, The Second Generation.

 


Tim ini harus berjuang juga seperti pendahulunya hingga sampai di Sochi. Untuk berlatih di Evanston, Wyoming, AS, mereka membutuhkan dana yang tak sedikit. Pemerintah tak mampu memenuhi seluruhnya. Maka dicarikan dana. Dukungan datang dari sebuah komunitas bernama Dogecoin yang berhasil mengumpulkan dana dari masyarakat sebanyak US$30.000. 

Dana itu masih belum cukup karena kebutuhannya US$80.000. Lalu pihak lain menggalang dana online dan terkumpul sebanyak US$80.000. Total pengumpulan dana itu mencapai US$180.000. Dengan dana itu mereka berlaga di Sochi.

Meski gagal meraih medali, upaya mereka patut diacungi jempol. Negara ini begitu terobsesi menaklukan salju dalam cabang olahraga bobsleigh. Mungkin mereka ingin membuktikan pemeo, tak ada yang tak mungkin di dunia ini selama mau berusaha.

Bagaimana kita terinspirasi dari kisah ini?
















Sumber:
andriewongso

Jumat, 07 Februari 2014

Renungan Kecil: Berpikir Sebelum Berkata-kata

Di sebuah kota kecil, seorang wanita menyebarkan gosip kepada tetangga dan setiap orang yang dijumpainya, bahwa perempuan muda di sebelah rumahnya suka mengganggu suami orang dan bila si lelaki sudah masuk jebakan, habislah semua uang dikurasnya.

 


Layaknya kabar burung, berita ini cepat menyebar ke penjuru kota. Guna menjaga ketertiban, pejabat sosial dibantu polisi menangkap sang perempuan muda. Setelah melalui pengadilan yang memakan waktu, akhirnya hakim memutuskan tuduhan tersebut tak terbukti. Perempuan muda ini dibebaskan.

Merasa nama baiknya tercemar, perempuan muda ini menuntut balik wanita tua karena menyebarkan berita bohong. Saat melakukan pembelaan, si wanita tua berdalih, "Itu kan hanya omongan. Nggak ada yang disakiti secara fisik, kan?"

Pak hakim pun menjawab, "Baiklah. Sekarang ambil kertas seratus lembar, lalu tulis apa yang dulu kamu katakan. Nanti setelah selesai, kamu pulang dan sebarkan di alun-alun kota. Besok temui saya lagi di sini."

Perempuan muda menjadi marah dengan vonis hakim yang terlalu ringan. Namun hakim menyuruhnya diam. Si wanita tua jadi tertawa karena merasa menang.

"Kalau begitu saja, dengan senang hati saya menerima hukuman," ucap wanita tua sambil bergegas meminta kertas dan menuliskannya. Dalam waktu satu jam, tugasnya selesai. Ia melangkah keluar ruang pengadilan menuju alun-alun, melemparkan tumpukan kertas ke udara.

Keesokan harinya, ia kembali menghadap hakim melaporkan tugasnya sudah selesai.

"Oh belum selesai," sahut pak hakim. "Sekarang kamu keluar dan punguti lagi semua tulisan kamu di kertas yang tersebar kemarin."

"Apa? Perintah yang nggak masuk akal. Mana mungkin saya mendapatkan seratus lembar kertas itu, pasti sudah terbawa angin dan tak tahu lagi di mana semuanya sekarang." Wanita tua itu meradang.

"Bukankah kemarin kamu bilang hanya omongan saat dulu kamu menyebar fitnah tentang perempuan muda ini? Begitulah, apa yang keluar dari mulut juga bisa tersebar ke berbagai tempat tanpa kamu sadari dampaknya. Mungkin, omongan buruk memang tak melukai secara fisik, tapi akibatnya bisa berbahaya."

"Karena itu kuasai mulut kamu, dan bukan mulut yang menguasai kamu. Berpikirlah sebelum bicara."








Ketika Hukum Mengalahkan Arogansi Pemegang Kekuasaan

Ceritanya dua anggota Satlantas Polres Kupang, Aiptu Piet Ena dan Aipda Mess Nite, menghentikan perjalanan Gubernur NTT Frans Lebu Raya dan rombongannya, usai melakukan kunjungan kerja di wilayah Kabupaten Kupang, Kamis (10/12013). Penghentian dilakukan polisi saat gubernur melintasi Jalan Timor Raya di Noelbaki, karena kendaraan yang mengawalnya membunyikan sirene.


Gubernur Frans Lebu Raya pun turun dari mobil dinasnya, lalu menghampiri dan menegur dua anggota Satlantas yang sedang bertugas.

"Pak Gubernur turun dari oto (mobil) dan tanya saya. Kamu tahu tidak saya Gubernur NTT, kenapa kalian tahan? Saya hanya bilang, kami tidak tahan bapak. Kami hentikan kendaraan yang mengawal bapak karena membunyikan sirene, dan itu melanggar aturan. Lalu Pak Gubernur bilang biarkan saya lewat, nanti saya sampaikan ke Kapolda," kata Piet menirukan ucapan gubernur. 

Hal senada disampaikan Aipda Mess Nite. Menurutnya, sekitar belasan mobil rombongan gubernur yang dihentikan. Bahkan, ada sebagian dari rombongan yang menendang papan rambu lalu lintas yang bertuliskan pemeriksaan kendaraan. Namun, keduanya mengaku prosedur yang dijalankan saat menghentikan kendaraan merujuk pada aturan lalu lintas, yakni UU Nomor 22 Tahun 2009.

Menanggapi kejadian ini, Kapolda NTT Brigjen Ricky Sitohang mengatakan, berdasarkan aturan perundang-undangan yang berlaku, rombongan gubernur seharusnya dikawal oleh Polisi Lalu Lintas. 

Menurut Sitohang, itu diatur dalam UU 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya (LLAJ). Dalam undang-undang itu dijelaskan, pengawalan terhadap kepala daerah seperti gubernur, wali kota, dan bupati, termasuk yang menggunakan konvoi voorijder dilakukan oleh polisi. 

"Tidak ada aturan Satpol PP kawal gubernur saat menggunakan jalan raya tanpa ada pengawalan polisi. Jangan bikin aturan sendiri, dan jangan salah kaprah terhadap UU. Seharusnya, rombongan Gubernur NTT dikawal oleh Polisi Lalu Lintas. Satpol PP bisa saja ada, tapi mereka ikut dari belakang," tutur Sitohang

Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Brigjen Ricky Sitohang

Terhadap polisi yang 'menahan' voorijder sipil, Kapolda Sitohang memberikan apresiasi. "Polisi seharusnya seperti itu. Saat menegakkan aturan, polisi jangan takut karena dia dilindungi UU. Saya senang melihat polisi yang paham dan bertanggung jawab terhadap tupoksinya. Terima kasih kepada polisi yang sudah laksanakan tugasnya itu. Dia sangat luar biasa, dia tahu tupoksi," puji Sitohang. 

Dalam melaksanakan tugas, jelas Sitohang, polisi harus tegas, namun humanis. "Jangan arogan, jangan menunjukkan kekuasaan. Jalankan aturan perundangan dengan cara yang santun. Polisi jangan membentak-bentak, memaki-maki, apalagi menganiaya. Kalau polisi membiarkan terjadi pelanggaran lalu lintas, maka polisinya sontoloyo," bebernya.

Menyimak cerita ini, mungkin beberapa dari kita masih teringat kisah masa lalu saat seorang polantas bernama Brigadir Royadin yang menghentikan dan menilang mobil yang saat itu ditumpangi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. 

Ceritanya pada pertengahan 1960-an itu, Royadin bertugas di pos lantas yang seingatnya kalau tidak di pertigaan depan Stasiun Poncol Semarang, di Simpang Lima, ataupun daerah Jalan MT Haryono. Tiba-tiba Royadin melihat ada mobil melanggar jalan searah. Ia langsung mencegat. Ternyata pengemudinya orang yang sama sekali tidak asing. 

Royadin tersentak, tapi ia tetap memilih menilang orang besar itu. Sultan HB IX menurut Royadin tidak marah dan memberikan surat-surat kelengkapan yang diminta sesuai peraturan. Berikut nukilan ceritanya yang membuat saya terharu, kagum sekaligus bangga dengan figur seorang pemimpin Yogyakarta.


Ketika Sri Sultan HB IX Ditilang Seorang Polantas

Becak dan delman amat dominan masa itu , persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman. 

Brigadir Royadin memandang dari kejauhan, sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut Sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti dihadapannya.

Saat mobil menepi, brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat. "Selamat pagi!" Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna. 

"Boleh ditunjukan rebuwes?" Ia meminta surat-surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca, jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes.

Perlahan, pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh. "Ada apa pak polisi?" Tanya pria itu. 

Brigadir Royadin tersentak kaget, ia mengenali siapa pria itu. "Ya Allah…sinuwun!" kejutnya dalam hati. Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik, naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.

"Bapak melangar verbodden , tidak boleh lewat sini, ini satu arah!" Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. 

Dirinya tak habis pikir, orang sebesar sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari jogja ke pekalongan yang jauhnya cukup lumayan.

Setelah melihat rebuwes, Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan, namun sultan menolak. "Ya.. saya salah, kamu benar, saya pasti salah!" Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggenggam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.

"Jadi…?" Sinuwun bertanya, pertanyaan yang singkat namun sulit bagi brigadir Royadin menjawabnya.

"Em..emm ..bapak saya tilang, mohon maaf!" Brigadir Royadin heran, sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya, jangankan begitu, mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara dan Rajapun beliau tidak melakukannya.

"Baik..brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal!" Sinuwun meminta brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang. 

Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di hadapannya. 

Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi. "Sungguh orang yang besar…!" begitu gumamnya.

Surat tilang berpindah tangan, rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada sinuwun sebelum sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal. 

Beberapa menit sinuwun melintas di depan stasiun pekalongan, brigadir royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar Sedan hitam itu tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya.

Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas, Ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut, lalu kembali kerumah dengan sepeda abu-abu tuanya. 

Saat apel pagi esok harinya, suara amarah meledak di markas polisi pekalongan, nama Royadin diteriakkan berkali-kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh-gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala kantor.

"Royadin, apa yang kamu lakukan, sa'enake dewe, ora mikir, iki sing mbok tangkep sopo heh..ngawur..ngawur!" Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa, ditangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan kekiri bolak balik.

"Sekarang aku mau tanya, kenapa kamu tidak lepas saja sinuwun, biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia, ngerti nggak kowe sopo sinuwun?" Komisaris tak menurunkan nada bicaranya. 

"Siap pak, beliau tidak bilang beliau itu siapa, beliau ngaku salah dan memang salah!" brigadir Royadin menjawab tegas.

"Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia, ojo kaku kaku, kok malah mbok tilang, ngawur, jan ngawur. Ini bisa panjang, bisa sampai Menteri!" Derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.

Brigadir Royadin pasrah, apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi, yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja, memang keras kepala kedengarannya. 

Kepala polisi pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan sinuwun, masih di Tegal kah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu, mengembalikan rebuwes. Namun tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar, keberadaa sinuwun tak kunjung diketahui hingga beberapa hari. 

Pada akhirnya kepala polisi pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes tanpa mengikut sertakan Brigadir Royadin.

Usai mendapat marah, Brigadir Royadin bertugas seperti biasa, satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak teman-temannya yang mentertawakan bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota pekalongan selatan.

Suatu sore, saat belum habis jam dinas, seorang kurir datang menghampirinya di persimpangan soko yang memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah menggenggam selembar surat.

"Royadin, minggu depan kamu diminta pindah!" lemas tubuh Royadin, ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak dipinggir kota pekalongan setiap hari, karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya dipersimpangan soko.

"Siap pak!" Royadin menjawab datar. 

"Bersama keluargamu semua, dibawa!" pernyataan komisaris mengejutkan, untuk apa bawa keluarga ke tepi pekalongan selatan, ini hanya merepotkan diri saja.

"Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar tetap di rumah sekarang!" Brigadir Royadin menawar.

"Ngawur, kamu sanggup bersepeda Pekalongan - Jogja? Pindahmu itu ke Jogja bukan disini, sinuwun yang minta kamu pindah tugas kesana, pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat!" Cetus pak komisaris, disodorkan surat yang ada digenggamannya kepada brigadir Royadin.

Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan dari Sri Sultan HB IX yang intinya :

"Mohon dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja, sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat!” Ditanda tangani Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Tangan brigadir Royadin bergetar, namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sanggup menolak permintaan orang besar seperti Sultan HB IX, namun dia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di kota Pekalongan. Ia cinta Pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini.

"Mohon bapak sampaikan ke sinuwun, saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari pekalongan, ini tanah kelahiran saya, rumah saya. Sampaikan hormat saya pada beliau dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya!"

Brigadir Royadin bergetar, ia tak memahami betapa luasnya hati sinuwun Sultan HB IX, amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya.


Kalau kita membaca dua kisah yang berbeda ini yaitu "Kisah Dua Polantas yang Menghentikan Iring-Iringan Mobil Gubernur NTT" dan kisah "Brigadir Royadin yang Menilang Sri Sultan HB IX" maka terlihat jelas perbedaan sikap meskipun kedua subyeknya sama-sama Gubernur. 

Gubernur NTT melalui ucapannya bisa disimpulkan mewakili figur penguasa masa modern dengan segala arogansinya, sedangkan sikap yang dilakukan oleh Sultan HB IX mencerminkan figur seorang pemimpin rakyat yang patut dicontoh dan dikenang sepanjang masa. 

Dan apa yang di lakukan Brigadir Royadin telah memberi contoh yang harus diteladani. Bagaimana seorang Polisi bersikap dan berani bertindak menegakkan peraturan tanpa kompromi siapa yang melanggar.


Sumber :
kaskus

Rabu, 05 Februari 2014

Di Bandung, Kakek 91 Tahun Ikut Wisuda

Kita mungkin sering membaca berita tentang orang-orang yang berusia lanjut bisa lulus di institusi pendidikan formal. Kebanyakan, semua kabar itu datang dari luar negeri. Padahal, orang Indonesia juga ada kok yang tetap semangat menuntut ilmu sampai tua.

Hermain Tjiknang, didapuk jadi lulusan tertua dalam acara wisuda di kampus Universitas Padjadjaran, Bandung, Selasa, 4 Februari 2014. Tentu saja, usianya kini 91 tahun!

 

Walau kondisi isik dan organ tubuh Hermain sudah menurun, ia tetap semangat. Berpakaian khas wisudawan, dengan jubah hitam dan toga, Hermain harus duduk di atas kursi roda selama dua jam acara berlangsung.

Hermain menjadi wisudawan tertua dari program doktor Fakultas Hukum dengan disertasi berjudul "Perlindungan Hukum atas Pekerja Alih Daya (Outsourcing) Berdasarkan Keadilan dalam Perselisihan Hubungan Industrial akibat Pemutusan Hubungan Kerja Sepihak". Karya ilmiah itu ia susun selama empat tahun. "Tujuh kali dicoret-coret dosen pembimbing, saya sempat sakit jantung," ujarnya setelah diwisuda.

Sakit jantung yang dialaminya itu sempat pula membuatnya harus masuk intensive care unit (ICU) rumah sakit saat dia tengah menyusun disertasi. "Gara-gara stres karena flash disk naskahnya dikira hilang," kata putri sulungnya, Suzanna Indrawati. Data itu ternyata berada di tangan asistennya.

Program S-3 itu diambil Hermain sejak 2008 selama setahun. Seminggu sekali ia terbang ke kampus Unpad di Bandung untuk menimba ilmu. Ia biasa berangkat hari Jumat, kuliah Sabtu, lalu pulang Ahad. 

"Bapak tidak pernah absen kuliah," kata Suzanna.


Pengambilan gelar doktor itu terkait dengan tuntutan syarat mengajar di kampus yang ikut ia dirikan pada 1980-an, yakni Perguruan Tinggi Bangka (Pertiba). Sempat menjadi pengacara dan guru SMA, Hermain kemudian memilih menjadi dosen ilmu hukum di kampung halamannya, Bangka. Sepekan tiga kali, ia mengajar mahasiswa S-1 sampai S-2 di Pertiba.

Sekilas info, Herman bukan satu-satunya orang yang lulus di usia tua. Sebelumnya, rekor itu dipegang seorang perempuan 87 tahun asal Bima. Ia merupakan doktor sejarah dari Fakultas Sastra Unpad. Jadi, masih banyak kok anak-anak bangsa ini yang memberi teladan positif. Kita bisa bangga, dan meniru semangat tersebut.






 






Sumber:
tempo

Jumat, 31 Januari 2014

Kisah 5 Makanan Sederhana Favorit Soeharto

Masa kecil dan remaja dihabiskan Soeharto dalam kemiskinan. Dia dibesarkan di Yogyakarta di tengah-tengah keluarga petani. Hal ini banyak mempengaruhi kehidupannya. Bahkan hingga dia menjadi Jenderal dan akhirnya menjadi Presiden.

Soal urusan makan, Soeharto tak berselera makan makanan mewah. Dia terbiasa makan makanan ndeso. Sederhana namun nikmat.

"Hidangan yang paling saya sukai adalah tetap lodeh buatan istri saya sendiri, atau ikan bakar atau goreng belut yang membawa kenangan di masa kanak-kanak," kata Soeharto Seperti ditulis dalam autobiografi Soeharto: "Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya" yang diterbitkan Cipta Lamtoro Gung Persada.


Kebiasaan makan Pak Harto ini mengejutkan sebagian besar menteri atau pejabat negara. Mereka tak mengira makanan seorang Presiden begitu sederhana. Saat makan, Soeharto sering mengajak para pengawal dan ajudannya untuk bergabung.

Seperti apa cerita Soeharto dan makanan sederhana favoritnya?


1. Tempe Bacem Bikin Kaget Perwira TNI AU


Sardjono adalah perwira TNI AU yang ditugaskan di Bina Graha yang menjadi kantor Presiden Soeharto. Sardjono terkejut dengan kehidupan Soeharto yang sederhana.

"Makanan orang nomor satu di Indonesia itu juga tidak mewah, biasanya hanya tempe bacem, sayur lodeh atau makanan lain yang murah," tulis Sardjono dalam "Pak Harto The Untold Stories" terbitan Gramedia Pustaka Utama halaman 80.

Sardjono mendampingi Soeharto selama sembilan tahun. Dia sangat terkesan melihat sikap Pak Harto yang sederhana dan bersahaja.



2. Lahap Makan Ikan Bilih


Soeharto gemar melahap ikan bilih, sejenis ikan berukuran kecil-kecil yang hidup di air tawar. Apalagi jika disuguhkan bersama sayur lodeh dan nasi hangat.

Ceritanya Soeharto mengundang Gubernur Sumatera Barat, Azwar Anas, untuk sarapan pagi. Azwar datang telat. Dia lega Soeharto tidak marah.

Ketika itu Azwar melihat Soeharto sarapan dengan sayur lodeh dan ikan bilih. Sementara untuk tamunya, makanan yang dihidangkan lebih mewah.

"Dari beberapa kali kunjungan, saya jadi tahu bahwa Pak Harto menyukai ikan bilih dari Danau Singkarak. Pak Harto sangat menikmatinya. Oleh karena itulah istri saya selalu memasakkan ikan bilih jika Pak Harto sedang berdinas ke Sumatera Barat dan sesekali mengirim ikan bilih ke kediaman Pak Harto," kata Azwar Anas dalam "Pak Harto The Untold Stories" terbitan Gramedia Pustaka Utama halaman 152.



3. Makan Tiwul Untuk Cegah Kolesterol


Salah satu makanan rakyat yang disukai Soeharto adalah tiwul. Makanan itu terbuat dari singkong yang diparut, lalu direbus bersama gula aren. Tiwul biasa dimakan rakyat Yogyakarta jika kesulitan beras.

Menurut Soeharto, Tiwul rendah kolesterol. Soeharto pun pernah menasihati ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Harmoko (kelak menjadi menteri penerangan dan ketua DPR/MPR).

"Jangan terlalu banyak makan daging. Kalau mau rendah kolesterol, makan tiwul, dan jangan sayur tempe," kata Pak Harto dalam "Pak Harto The Untold Stories" terbitan Gramedia Pustaka Utama halaman 168.

Harmoko malah menyahut. "Tapi di Jakarta susah mendapatkan tiwul, Pak." Soeharto tersenyum saja.



4. Suguhi Pop Mie Untuk Menteri Keuangan


Walau seorang presiden, Soeharto ternyata doyan juga makan pop mie. Dia menikmati mie instan itu sebagai makanan selingan atau cemilan. Soeharto pun menyuguhkan Pop Mie untuk tamunya. Termasuk JB Sumarlin yang pernah menjabat sebagai Menkeu.

JB Sumarlin menceritakan suatu sore tahun 1984, dia menghadap Soeharto di Jl Cendana. Saat itu Pak Harto meminta disiapkan makanan ringan. Ketika datang ternyata dua gelas Pop Mie. Sumarlin terkejut. Sebelumnya dia belum pernah makan Pop Mie.

"Setelah menunggu sekitar tiga menit, baru mie instan itu diaduk. Kami pun menyeruput kuahnya dan makan bersama. Itulah pertama kali saya makan Pop Mie," kenang Sumarlin dalam "Pak Harto The Untold Stories" terbitan Gramedia Pustaka Utama halaman 160.

"Orang mengira makanan yang disuguhkan Pak Harto itu mewah dan mahal. Meskipun beliau itu presiden, Pak Harto tidak canggung menyantap mie instan seperti rakyat kebanyakan di luar."



5. Bagikan Arem-arem Sebagai Bekal Memancing


Di kalangan pengawal dan orang-orang dekat, Soeharto dikenal egaliter. Dia makan apa yang dimakan anak buahnya.

Soeharto pernah mengajak Ibu Tien memancing. Sebagai bekal, Ibu Tien membuat arem-arem. Arem-arem adalah penganan ringan seperti lontong yang di dalamnya diisi sayuran atau daging. Biasanya sering dimakan untuk sarapan atau mengganjal perut sebelum waktu makan tiba.

"Ibu Tien menyuruh saya langsung membagikan kepada seluruh kru kapal. Setelah semuanya kebagian, saya membawa arem-arem yang tersisa kepada Ibu Tien. Beliau mengambil dua dari arem-arem itu dan membuka daun pisang yang membungkusnya untuk dinikmati berdua Pak Harto," ujar sobat memancing Pak Harto Hioe Husni Wirajaya.


Sumber :
merdeka

Selasa, 28 Januari 2014

Moru-chan, Gamer yang Menghasilkan 112 Juta Dalam 3 Bulan

Menjadi gamer profesional tidak semudah yang dibayangkan. Selain dituntut memiliki skill, seorang gamer juga harus memiliki pengetahuan yang mumpuni seputar dunia game online.

Lantas, apakah hobi bermain game bisa dijadikan pekerjaan atau setidaknya mendatangkan penghasilan? Jawabannya "Ya". Seorang gamer profesional asal Jepang, yang biasa disapa Moru-chan, digaji 1 juta yen (atau sekitar Rp 112 juta) per 3 bulan untuk keahliannya bermain game online. Moru-chan pun menghabiskan sekitar 12 jam waktunya setiap hari untuk bermain ArcheAge.


Melalui wawancara eksklusif yang dilakukan oleh RocketNews24, Moru-chan diketahui telah menekuni pekerjaan sebagai seorang gamer sejak lama.

Kini, dia pun dipilih oleh tim manajemen ArcheAge untuk bekerja pada proyek mereka. Syaratnya, tim meminta Moru-chan bermain ArcheAge selama tiga bulan penuh dan kegiatannya tersebut harus dipertontonkan lewat live streaming Niconico setiap malam.


Ketika ditanya apakah Moru-chan merasa jenuh harus terkurung selama 3 bulan di apartemen, yang diberikan perusahaan untuknya, pria itu dengan tegas menjawab "Tidak sama sekali!".

Terpilihnya Moru-chan untuk proyek tersebut bukannya tanpa alasan. Dulu, dia sering mengikuti berbagai game kompetitif di tingkat dunia, sehingga sosoknya dianggap sebagai pilihan tepat untuk pekerjaan yang digelutinya sekarang.


Disamping kemampuannya duduk selama berjam-jam tanpa lelah di depan komputer, ada hal unik yang membedakannya dengan stereotip gamer pada umumnya.

Sebagai contoh, apartemen Moru-chan sangat bersih dan rapi. Padahal, stereotip gamer hardcore umumnya dikenal jorok dan tidak rapi.

Kamar seorang gamer hardcore biasanya dipenuhi poster-poster game hardcore, kabel dari berbagai konsol game, dan bau tidak sedap dari pakaian yang tidak dicuci atau sisa makanan yang berserakan di kamar. Namun, itu semua tidak ditemukan di kamar Moru-chan. Semua tampak bersih dan tertata rapi.

"Saya selalu meng-update blog pribadi saya dan masih berhubungan intens dengan sebagian besar teman-teman saya secara online," ungkap Moru-chan.

Bukan hanya itu, ternyata Moru-chan juga sudah menikah, memiliki rumah tangga yang bahagia. Istrinya sepenuhnya mendukung gaya hidup Moru-chan sebagai gamer profesional dan selalu menyemangatinya untuk terus berkembang. Berikut adalah jadwal kegiatan sehari-hari yang dilakukan Moru-chan selama 3 bulan:

12:00 : bangun, mandi, makan, mencuci pakaian
15:00 : bermain game
16:00 : memperbarui blog pribadi
18:00 : makan
19:00 : bermain game
21:00 : mulai live streaming
06:00 : pergi tidur

Begitu seterusnya selama tiga bulan.


Sumber :
infounik-pintar

Minggu, 22 Desember 2013

Ibu Bangsa yang Tak Mau Dimadu

Seorang ibu, selain berperan penting membesarkan dan merawat penuh kasih sayang anak-anaknya, juga pasangan sepadan imam rumah tangga. Dan Bapak Bangsa, Soekarno memperolehnya dari Ibu Inggit. Dialah kekasih, ibu, dan juga teman yang mengantar Bung Karno ke gerbang kemerdekaan Bangsa ini.

Dikutip dari buku Kuantar ke Gerbang,  Ramadhan K.H. sosok Ibu Inggit digambarkan sebagai teladan bagi perempuan, bagi ibu di negeri ini. Berikut sekelumit kisahnya.

 


Soekarno muda datang dari Surabaya setelah lulus Hoogere Burger School di akhir Juni 1921. Ia mempunyai mimpi besar untuk menjadi insinyur di bidang teknik sipil, Technische Hoogeschool te Bandoeng kemudian dipilih sebagai tempat untuk melanjutkan pendidikannya.

Tjokroaminoto sekaligus mertuanya membantu mencarikan tempat tinggal di Bandung, dan rumah Haji Sanusi kemudian menjadi tempat tinggalnya saat itu. Haji Sanusi adalah salah satu anggota Sarekat Islam, sedangkan Inggit Garnasih adalah istri dari Haji Sanusi yang waktu itu menjadi ibu kos Soekarno.

Soekarno memang sudah mengagumi Inggit sejak pandangan pertama. Dia tidak pernah lupa saat Inggit menyambutnya di pintu rumah Jl. Ciateul, Bandung.

"Keberuntungan yang utama itu sedang berdiri di pintu masuk dalam suasana setengah gelap dibingkai lingkaran cahaya dari belakang. Dia memiliki tubuh yang kecil, dengan sekuntum bunga merah menyolok di sanggulnya dan sebuah senyuman yang mempesona. Dia adalah istri Haji Sanusi, Inggit Garnasih. Oh, luar biasa perempuan ini," kata Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams.

Gayung bersambut, rupanya Inggit pun terkesan dengan pertemuan pertama.
"Dia mengenakan peci beledu hitam kebanggaannya dan pakaian putih-putih. Cukupan tinggi badannya. Ganteng. Anak muda yang bersolek, perlente." kata Inggit dalam novel biografi Kuantar ke Gerbang yang ditulis Ramadhan KH.

Lalu singkat cerita,  Soekarno dan Inggit menjadi sahabat. Soekarno kerap menceritakan kehidupan pernikahannya bersama Oetari yang hambar kepada Inggit. Menurut Soekarno, sikap Oetari yang kekanak-kanakan tidak sesuai dengan visi dan mimpi besarnya. Masih kekanakan?, iyalah wong si Oetari saat itu masih berusia 16 tahun, menurutku sih wajar aja.

Dari Inggit, Soekarno juga tahu kalau pernikahan Inggit dan Haji Sanusi juga tidak berjalan harmonis. Kerap Haji sanusi meninggalkan Inggit untuk bermain bilyar dengan teman-temannya sampai larut malam. Dan dalam masa-masa itu, cinta mereka tumbuh subur.

"Hanya Inggit dan aku dalam rumah yang sepi. Dia kesepian, aku kesepian. Perkawinannya tidak betul. Dan perkawinanku tidak betul. Dan, sebagai dapat diduga. Hubungan ini berkembang," kata Soekarno dalam buku biografinya.

Soekarno pun mengutarakan maksudnya untuk menikahi Inggit kepada haji Sanusi. Ia meminta Haji Sanusi untuk segera menceraikan Inggit. Entah apa yang dirasakan Haji Sanusi saat mendengar keinginan Soekarno, tapi tidak lama setelah itu Haji Sanusi dan Inggit pun akhirnya resmi bercerai.

Tahun 1923 Inggit dan Soekarno resmi menikah, dan kini kita mengenal Soekarno sebagai orang besar, penyambung lidah rakyat, singa podium yang menyuarakan rakyat, dan bermacam-macam julukan kebanggan untuknya.

 


Keberhasilan Soekarno tidak terlepas dari jasa-jasa Inggit Garnasih, seseorang dibalik layar yang mendukung pergerakan Soekarno  secara non materi dan materi. Ia menyediakan rumahnya untuk Soekarno dan teman-temannya berkumpul, serta membiayai kegiatan politik Soekarno pada saat itu.

Ketika Soekarno menjalani hukuman penjara di Banceuy, dia menjadi tulang punggung keluarga dengan cara meracik jamu, bedak, menjahit kutang, menjadi agen sabun dan cangkul, serta membuat rokok berlabel 'Ratna Djuami' sambil tetap rutin mengunjungi Kusno (panggilan sayang untuk Soekarno) di penjara Banceuy sambil membawakan buku-buku. Dari dalam penjara itulah Soekarno kemudian lahir bersama pledoinya yang dikenal dengan nama Indonesia Menggugat.

Inggit mampu melakoni tiga peran, sebagai ibu, sahabat, dan kekasih Kusno. Ketika Soekarno harus diasingkan ke Pulau Endeh Flores dan Bengkulu. Inggit ada di sana. Menemani Kusno yang ia sayangi.

 Mungkin tanpa Inggit Garnasih, Soekarno sudah selesai di penjara dalam keadaan putus asa dan pemikiran-pemikiran besarnya tidak pernah kita dengar.

 

Fatmawati untuk keturunan
Tahun 1942, Saat itu usia Inggit 53 tahun, ia memutuskan jalannya sendiri. Dengan tegas ia menolak untuk dimadu saat Soekarno mengutarakan niatnya untuk mempersunting Fatimah, atau lebih dikenal Fatmawati. Fatmawati sudah Inggit anggap sebagai anak sendiri ketika mereka berada di pengasingan Bengkulu. Alasan Soekarno logis, ia menginginkan keturunan, sedangkan Inggit sudah tidak bisa memberikan keturunan padanya.Ia kemudian meminta diceraikan dan dipulangkan ke Bandung.

1 juni 1943 Soekarno menikahi Fatmawati. Dan saat Indonesia merdeka, Fatmawati adalah wanita ibu negara pertama yang banyak kita kenal dan tercatat di buku-buku sejarah.

Kabarnya, Inggit Garnasih setelah diceraikan masih menyimpang rasa sayang kepada Kusno. Hingga Soekarno tutup usia, ia masih datang melayat dan memberikan penghormatan terakhir kepada mantan suaminya itu.
"… Sesungguhnya aku harus senang karena dengan menempuh jalan yang tidak bertabur bunga, aku telah mengantarkan seseorang sampai di gerbang yang amat berharga. Ya, gerbang hari esok yang pasti akan lebih berarti, yang jauh lebih banyak diceritakan orang secara ramai." 
[Inggit Ganarsih, Kuantar ke Gerbang -  Ramadhan K.H.]

 
Inggit sendiri menghabiskan masa tuanya di Bandung hingga tutup usia pada 13 April 1984 di usia 96 tahun.








 










Jumat, 20 Desember 2013

Tobat Mencuri, Pemuda Ini Potong Tangannya di Rel Kereta Api

Seorang pemuda Mesir memotong tangannya sendiri demi mencegah dia mencuri. Dia mengatakan ini sesuai syariah Islam saat seseorang merampas barang milik orang lain tangan pelaku diamputasi.

Menurut situs masrawy, Ali Afifi telah memotong tangannya empat tahun lalu. Dia melakukannya dengan meletakkan di atas rel kereta tanpa bius sekalipun.


Dia sebelumnya memang berprofesi menjadi maling namun tidak pernah ketahuan. Dia ingin bertobat dan menurutnya satu-satunya cara dengan memotong kedua tangannya. Setelah melakukan itu, dia berjalan ke tengah kerumunan orang.

"Lihat, saya seorang pencuri, tapi Allah telah mengampuni saya," Afifi berteriak-teriak menunjukkan kedua tangannya setelah terpotong dengan darah tercecer kemana-mana. Warga terkejut dan menganggapnya sinting.

Afifi mulai mencuri sejak masih kecil. Dimulai dari mengambil alat tulis teman sekolahnya. Beranjak remaja dia mulai berani mengutil emas, uang, dan ponsel.

Sementara ayah Afifi seorang muadzin (pelantun azan) di masjid dan berulang kali mengingatkan dia agar tidak nyolong milik orang lain. Ini menyebabkan keduanya sering bertengkar.


Sebenarnya ayah Afifi pernah membawa dia ke para ulama dan syekh agar memotong tangannya. Namun mereka menolak lantaran otoritas Mesir tidak mensahkan hukuman itu. Mereka bisa melakukannya jika didukung undang-undang sah.

Afifi mengaku tidak merasakan sakit saat mengamputasi tangannya sendiri di atas rel kereta. "Dengan mengingat Allah dan keinginan kuat untuk tidak mencuri lagi, rasa sakit itu hilang," ujar dia.


Sumber :
merdeka

Rabu, 18 Desember 2013

Menolak Uang, Gelandangan ini Sukses Jadi Pembuat Aplikasi Smartphone

Hidup sebagai gelandangan yang tak punya tempat tinggal permanen biasanya hanya terpikir hal singkat, mendapat makan dan uang. Kondisi ini pasti dialami Leo Grand, seorang gelandangan di Amerika Serikat. Mendapat uang dengan cara mengemis menjadi hal wajar. Orang mungkin hanya memberi beberapa keping sen atau paling banter 5 Dolar.

 
Bila di suatu hari beruntung, Leo tiba-tiba ditawari uang 100 Dolar tentu seperti berkah dari surga. Setidaknya ia bisa makan lebih enak satu atau dua hari. Begitulah, suatu ketika seseorang tersebut, Patrick mcConlogue menawarkan bantuan padanya. Kebetulan Patrick sebagai programmer memberi pilihan pada Leo, 100 Dolar atau 3 buku Java-Script dan pelajaran koding sebanyak 16 sesi.

Pilihan yang berat ketika perut menuntut makan enak sementara otak berpikir masa depan. Dan otak Leo yang kali ini jadi pemenang, ia menolak 100 Dolar. Patrick pun memberinya 3 buku untuk dipelajari beserta janji pertemuan berikut untuk mulai belajar.

Sesuai janjinya, Patrick setiap hari datang menemui Leo untuk mengajarinya coding. Patrick sendiri adalah orang yang sangat percaya akan pepatah yang mengatakan 'Mengajari orang memancing akan lebih baik ketimbang memberinya ikan setiap hari'. Dia pun menerapkannya pada Leo yang memang menyambut antusias pancingan yang diarahkan padanya.




Akibat pilihan ini, hidup Leo mulai berubah secara bertahap. Pengangguran yang bangkrut sejak 2011 ini bisa memahami pelajaran yang diberikan Patrick, dan mulai membuat program. Satu aplikasi mobile yang kini sukses mengantarnya pada hidup berpenghasilan yang jauh lebih baik adalah Tree for Cars. Yakni aplikasi untuk iOS dan Android yang berguna untuk mengurangi penggunaan mobil di jalanan. Aplikasi ini menghubungkan antara orang yang ingin memberikan tumpangan dan orang yang ingin menumpang. Dengan begitu, jumlah mobil pun bisa berkurang dengan sendirinya.

Saat ini aplikasi Leo sudah dipajang baik di Apple Store dan juga Google Store. Diharapkan aplikasi Trees of Cars ini akan membantu kota di Amerika Serikat lebih hijau, segar dan alami. Sesegar Leo yang kembali menggapai sukses dalam hidupnya.






















Rabu, 11 Desember 2013

Pantang Menyerah, Gadis Tunanetra ini Membaca Lewat Bibir

Ketika ingin mencapai tujuan lalu membentur tembok, apa yang harus dilakukan? Orang sukses akan mencari jalan lain untuk mengatasi rintangan. Dan itulah yang dilakukan Tsang Tsz-Kwan, gadis tunanetra di Hong Kong.

Sejak belia  ia tak bisa melihat dan mengalami gangguan pendengaran yang parah. Ia juga mengalami kondisi di mana ujung jari-jari tangannya tidak peka yang membuatnya tak bisa merasakan tonjolan titik-titik dalam huruf Braille.

 
Foto: Jonathan Wong

Kondisi ini justru membuatnya pantang menyerah, gadis berusia 20 tahun itu menemukan jalan alternatif untuk membaca huruf Braille, yaitu dengan menggunakan bibirnya.

"Di kelas 1 SD, saya menyadari bahwa dia selalu membungkuk ke depan," ujar Mee-Lin Chiu, salah seorang guru di Ebenezer School & Home untuk anak-anak yang mengalami gangguan penglihatan - yang merupakan satu-satunya sekolah untuk anak berkebutuhan khusus di Hong Kong yang khusus ditujukan untuk anak tunanetra.

"Dia mengatakan kepada saya itu dilakukan karena dia bisa membaca lebih jelas dengan menggunakan bibirnya ketimbang dengan tangannya."

Tsang sendiri mengakui bahwa, "Saya tahu ini bukan pendekatan yang biasa dan terlihat aneh. Bahkan saya sendiri tidak tahu bagaimana bisa sampai seperti ini," katanya sambil menyebut caranya ini adalah "keajaiban."

Meski Tsang mungkin bukanlah orang pertama yang menggunakan bibir untuk membaca huruf Braille, ia menjadi kasus yang jarang terjadi. "Ini untuk pertama kalinya saya mendengar tentang seseorang yang berhasil menggunakan bibir," kata Diane Wormsely, profesor di North Carolina Central University yang mengkhususkan diri dalam pendidikan untuk tunanetra. Chiu juga mengatakan bahwa Tsang adalah satu-satunya siswa di Ebenezer yang menggunakan bibir mereka - dan merupakan satu-satunya kasus yang ia ketahui terjadi di Hong Kong.



Penuh tantangan
Walau demikian, membaca huruf Braille dengan bibir bukanlah tanpa tantangan.

"Awalnya, tidak ada yang bisa menerimanya," kata Tsang. "Bahkan saat ini, banyak orang yang menganggapnya aneh... Ini bisa menimbulkan hal yang memalukan ketika saya membaca di tempat-tempat umum dan di depan orang yang tidak dekat dengan saya."

Membaca huruf Braille dengan bibir juga menimbulkan masalah kepraktisan karena buku-buku dalam huruf Braille biasanya berukuran besar dan berat.

Meski demikian, Tsang mengatakan ia merasa "bersyukur" masih bisa memiliki cara untuk belajar mengenai dunia melalui tulisan. Membaca adalah salah satu kegemarannya untuk mengisi waktu luang - sumber stimulasi intelektual sekaligus pelarian dari tekanan psikologis.

Ia juga percaya bahwa ia bisa mengatasi kekurangannya dengan kerja keras, tekad dan keinginan untuk mendorong dirinya melampaui zona nyamannya.

"Tanpa keberanian untuk menantang diri saya sendiri, tentu saja tidak mungkin mencapai kesuksesan," sahutnya.



Keluar zona nyaman
Di Ebenezer, kelas-kelas yang diikutinya hanya berisi oleh 10 siswa, yang sama-sama mengalami kekurangan yang membuat mereka dengan mudah menjalin persahabatan. Semua bahan pelajaran dibuat dalam huruf Braille dan para guru khusus dilatih untuk menghadapi anak tunanetra.

Namun di Kelas 7, Tsang memutuskan untuk meninggalkan zona nyamannya di Ebenezer dan pindah ke SMP umum, karena ingin meleburkan dirinya ke dalam lingkungan kehidupan yang lebih nyata. "Saya harus memfasilitasi masa adaptasi saya ke tengah masyarakat ketika saya menyelesaikan studi saya dan harus masuk ke tempat kerja," katanya.

Masa transisinya bersekolah di sekolah khusus anak perempuan Ying Wa di Hong Kong tidak selalu mudah. Kelas-kelas di sana jauh lebih besar dan para guru tidak mendapatkan pelatihan khusus untuk menghadapi siswa tunanetra. Tsang harus mengirimkan semua bahan pelajaran tertulisnya ke Ebenezer atau Hong Kong Society for the Blind untuk diterjemahkan ke dalam huruf Braille. Ia mengungkapkan, membaca dan menulis membuatnya harus menghabiskan waktu dua kali lipat lebih lama dibandingkan teman-teman sekolahnya.

 


Ia menyadari bahwa ia harus lebih mandiri dan memiliki keinginan yang lebih besar untuk mengungkapkan perasaan dan kebutuhanya kepada para staf sekolah dan siswa-siswa lainnya yang menyambut baik kehadirannya, namun tidak terbiasa berhadapan dengan siswa tunanetra.

Salah satu gurunya, Kwong Ho-Ka, mengatakan bahwa sejalan dengan waktu staf di sekolah belajar kapan harus turun tangan untuk membantu Tsang.

"Jika dia membutuhkan sesuatu, dia akan memberitahukan kami," kata Kwong, sambil menambahkan bahwa Tsang yang sangat mandiriberjalan di seputar sekolah tanpa bantuan, menggunakan tongkat dan tangga berjalan serta menggunakan tangga tanpa dibantu.

Kwong, yang terlihat sangat menyayangi Tsang, mengatakan bahwa meski Tsang tidak pernah dicemooh teman-temannya, integrasi sosial adalah proses yang berjalan secara bertahap.

"Dia memiliki teman-teman, namun dia bukan bagian dari beberapa kelompok pertemanan besar. Misalnya, sekelompok perempuan mungkin ngobrol soal budaya pop, namun mungkin akan sulit baginya untuk masuk dalam percakapan seperti itu. Dia mungkin tidak mengenali siapa yang sedang berbicara dan dia tidak akrab dengan budaya pop."



Jadi murid berprestasi
Upaya pantang menyerah Tsang pada akhirnya berbuah manis, ia mendapat nilai tertinggi dalam berbagai bidang studi seperti mata pelajaran Bahasa China, Inggris dan Studi Liberal. Walau demikian, ia sendiri terkejut mendapati hal ini.

"Saya merasa sangat kaget dan gembira ketika saya mendengar bahwa nilai-nilai saya untuk beberapa mata pelajaran melebihi dari harapan saya," sahutnya. "Saya merasa kerja keras saya tahun ini akhirnya terbayar."

Keberhasilannya untuk mencapai bangku kuliah dengan kerja keras, membuat Tsang setia pada filosofi hidupnya yang selama ini dipegangnya. "Ketidaknyamanan dan keterbatasan (kecacatan saya) akan mengikuti saya di sepanjang hidup saya ... dan saya harus memiliki keberanian untuk menghadapi kenyataan ... Saya akan mensyukuri apa yang saya masih miliki."

"Saya ingin mendorong semua orang untuk memiliki keberanian dan ketekunan untuk melalui semua pasang surut dalam kehidupan kita karena saya tahu setiap orang memiliki kesulitannya sendiri. Tapi satu hal yang pasti: di mana ada kemauan, di situ ada jalan."












 







Selasa, 10 Desember 2013

Sosok Misterius, Pahlawan di Tragedi Kereta Bintaro

Kecelakaan kereta Commuter Line yang bertabrakan dengan mobil tangki bahan bakar menyisakan duka yang dalam. Namun untunglah ada sosok-sosok penyelamat sehingga jumlah korban bisa diminimalisir.

Salah satu pahlawan yang tak diketahui namanya hingga jadi sosok misterius diceritakan Eben Ezer Sidari, wartawan Jaringnews yang juga jadi penumpang saat kecelakaan terjadi. Ya, inilah kisah pahlawan tanpa tanda jasa. Pahlawan yang tak perlu sanjungan, cukup baktinya jadi penyelamat nyawa banyak orang.


Foto milik tempo.co /  Muhammad Nafi


Senin pagi, 9 Desember 2013
Sampai beberapa menit setelah peristiwa tabrakan, saya yakin sebagian besar penumpang kereta tidak menyadari apa yang terjadi, seperti juga saya yang sempat terduduk diam di dalam kereta. Keadaan yang di luar dugaan. Kami yang berada di rangkaian gerbong yang agak tengah, sama sekali belum tahu apa yang berlangsung, tatkala kami merasakan sentakan demi sentakan, seakan kereta dipaksa berhenti, sebelum akhirnya kereta itu benar-benar tak bergerak.

Semula saya menduga kereta sudah tiba di stasiun Kebayoran setelah kami melalui stasiun Pondok Ranji. Tetapi ketika melihat keluar dari jendela, saya melihat di kanan-kiri rel kereta adalah pemukiman, bukan bangunan stasiun, sebagaimana biasa. Saya lebih risau setelah menyaksikan beberapa orang sudah berlarian di sepanjang rel, berteriak-teriak, tetapi dengan nada yang tidak jelas. Maklumlah, pintu otomatis kereta masih terkunci. Dari jendela kaca hanya sayup-sayup saja suara itu terdengar.

Makin kacau lagi pikiran saya ketika dari gerbong bagian depan, saya melihat penumpang berduyun-duyun dan berdesak-desakan masuk menerobos melalui pintu penghubung. Semua dengan wajah cemas, sebagian pucat, dan juga dengan teriakan. Beberapa orang diantara mereka mencoba memukul kaca, untuk memecahkannya agar bisa keluar dari kereta. Tapi tak berhasil. Di dalam kereta memang biasanya disediakan palu pemukul kaca dalam keadaan darurat. Namun pada keadaan panik demikian, kelihatannya tidak ada yang terpikir ke sana.

Saya mulai menyadari ada yang tidak beres dalam kereta, tetapi tetap belum tahu apa yang terjadi. Sudah sejak tahun 2005 saya menggunakan jasa commuter line bila hendak pergi kerja, tetapi baru kali ini saya mengalami kepanikan yang seperti ini.

Untung saja penumpang di dalam kereta tidak berjubel. Kereta ini berangkat dari stasiun Sudimara, tempat saya naik, kira-kira pukul 11:00. Itu sebabnya tak banyak penumpang. Tidak seperti pagi hari yang berjubel sampai kita acap kali merasa seperti sesak napas.

Makin berjalan waktu, makin ramai penumpang yang merangsek masuk ke gerbong kami dan mendesak untuk beranjak ke gerbong yang lebih belakang lagi. Satu dua orang berusaha mendobrak pintu otomatis. Tentu saja tak berhasil. Mereka kemudian kembali merangsek ke gerbong yang lebih ke belakang lagi.

Saya pun mulai panik, saya ikut berdiri lalu beranjak hendak menuju gerbong belakang. Siapa tahu di sana ada pintu yang terbuka, pikir saya.

Namun tak berapa lama, seorang pria yang saya sudah lupa wajahnya, dengan cepat mencoba mencari sesuatu di bawah tempat duduk. Ia perlu beberapa waktu untuk menemukannya. Lalu ia menarik sesuatu di sana, dan perlahan-lahan terdengar suara seperti embusan angin, seperti rem angin truk-truk besar ketika ditarik. Bersamaan dengan itu, saya melihat pintu keluar di gerbong kami seperti terlepas. Saya menjangkau pintu itu, dan memang dengan mudah bisa dibuka. Pintu pun terbuka. Beberapa orang penumpang melompat, dan saya juga.

Saya segera berlari menyelamatkan diri. Saya menoleh ke arah depan kereta dan terlihat kobaran api yang sangat besar diiringi beberapa kali dentuman. Untuk menjangkau pemukiman, kami harus memanjat karena rel kereta berada pada cekungan yang cukup dalam. Beberapa penduduk membantu kami untuk naik.

Sampai 15 menit pertama, penduduk sudah ramai menyaksikan kebakaran kereta itu, tetapi belum dapat berbuat apa-apa. Mereka juga ikut panik, sebab khawatir api bisa juga menjalar ke pemukiman dan melalap perumahan mereka. Apalagi menurut mereka, tragedi Bintaro tahun 1980-an yang menewaskan ratusan penumpang kereta ketika itu, juga berada di sekitar lokasi. Saya akhirnya berlari menyelamatkan diri ke rumah RT setempat, untuk menarik napas dan sesudahnya kembali lagi ke TKP untuk mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Ketika saya mencoba menelepon beberapa orang melalui ponsel, gagal beberapa kali. Sinyal kelihatannya kurang bersahabat.

Saya tidak ingat apakah pria yang berhasil menemukan cara membuka pintu tersebut, ikut turun dari kereta bersama saya atau tidak. Sekarang setelah peristiwa itu berlalu, saya mulai berpikir, jangan-jangan pria itu lah yang telah berjasa membuka satu demi satu pintu di kereta, sehingga dapat menghindarkan korban yang lebih banyak.

Saya mulai menduga-duga, mungkin pria itu sudah bergerak dan bekerja dari mulai gerbang di depan, berlanjut ke gerbang yang saya tumpangi, untuk membukakan pintu secara darurat. Seingat saya, ia sama sekali tidak banyak bicara. Seperti sudah terlatih.

Saya juga mulai menduga-duga, jangan-jangan ia tidak ikut turun bersama saya, tetapi melanjutkan langkahnya ke gerbong lainnya, untuk melakukan hal yang sama, membuka pintu otomatis yang dalam keadaan normal, tak akan pernah membuka bila masinis tidak menekan tombol otomatisnya.

Saya juga terpikir, bahwa seandainya kejadian ini pada pagi hari, pasti yang tercipta adalah kepanikan berlipat-lipat kali dari keadaan kemarin itu. Mungkin akan banyak yang terinjak-injak karena semua berusaha menyelamatkan diri. Upaya untuk memecahkan kaca, seingat saya, tidak berhasil di gerbong yang saya tumpangi. Dan sekali lagi, untung saja ada pria yang saya tak bisa ingat lagi seperti apa wajahnya, yang berhasil menemukan cara membukakan pintu dan puluhan bahkan ratusan penumpang, dapat segera meninggalkan kereta.

Dari Bahasa Sanskerta, kita mengadopsi kata phala-wan menjadi pahlawan. Yaitu orang yang menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, masyarakat dan agama. Pahlawan dikenal karena perbuatannya yang menonjol, penuh keberanian dan pengorbanan untuk membela apa yang dianggapnya benar dan perlu untuk bangsa dan negaranya. Pejuang yang gagah berani.

Menurut saya, dia yang telah berhasil menemukan cara membukakan pintu secara darurat itu adalah juga pahlawan. Andai ia tak menemukan cara itu, masih akan banyak penumpang yang terkurung di dalam kereta.












Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Blogger Templates