Social Icons

Pages


Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Juni 2015

Inilah 10 Spesies Makhluk Hidup Tertua yang Pernah Ditemukan di Bumi

Semua hewan dan tumbuhan yang hidup hingga saat ini adalah makhluk-makhluk yang sudah berhasil hidup dan beradaptasi selama jutaan tahun lalu.

Bahkan sampai sekarang pun, masih ada banyak hewan-hewan prasejarah yang masih hidup. Sebut saja contohnya paus atau komodo. Dua hewan tersebut dipercaya hidup di era dinosaurus menguasai bumi Namun, terdapat 10 makhluk hidup lain yang berumur lebih tua dari dua hewan tersebut.


10. Semut Martialis Heureka (120 juta tahun)


Walaupun termasuk salah satu hewan tertua di bumi, namun semut ini baru ditemukan oleh manusia modern pada tahun 2000 lalu di hutan hujan Amazon, dekat Manaus, Brasil.

Semut ini sempat menghebohkan peneliti karena tak ada matanya, alias buta. Jenis semut yang tanpa mata dan memiliki warna krem ini merupakan keluarga baru dari Martialinae.

Begitu anehnya semut ini hingga dijuluki "Semut dari planet Mars" atau dalam bahasa latinnya Martialis heureka (Ant from Mars) yang kemudian menjadi namanya.

Dan sangat mengagumkan, walau tanpa mata dan hanya dengan mengandalkan kedua sungut antenanya, turunan semut spesies ini dapat beradaptasi dan bisa bertahan hidup sejak lebih dari seratus juta tahun yang lalu.


9. Ikan Sturgeon (200 juta tahun)


Ikan jenis Sturgeon adalah nama umum dari 26 spesies ikan dalam keluarga Acipenseridae, termasuk genus Acipenser, Huso, Scaphirhynchus dan Pseudoscaphirhynchus.

Keluarga dari ikan bertulang tertua ini mempunyai habitat hidup di sungai, danau dan pantai sub-tropis, iklim sedang dan sub-arktik. Sturgeon dapat dijumpai di sekitar Amerika Utara.

Menurut para ahli, dulunya kemungkinan ikan ini memiliki tubuh yang besar, namun dikarenakan evolusi maka menyusut sampai dengan bentuk seperti sekarang.


8. Hewan Laut Horseshoe Shrimp (200 juta tahun)


Horseshoe Shrimp adalah satu-satunya spesies di muka bumi yang tidak mengalami evolusi atau perubahan bentuk sejak 200 tahun lalu. Dari fosil yang ditemukan dan bentuknya sekarang, hewan yang bernama latin Cephalocarida ini juga masih tetap sama.


7. Tumbuhan Ginkgo Biloba (270 juta tahun)


Spesies tunggal dari salah satu divisio anggota tumbuhan berbiji terbuka ini dapat ditemui di mana saja karena ruang hidupnya tersebar luas di seluruh dunia. Dari fosil yang pernah ditemukan dan bentuknya sekarang, Ginkgo biloba tumbuhan ini tidak mengalami perubahan sama sekali. Diperkirakan, tumbuhan ini hidup sejak periode Permian.


6. Ikan Coelacanth


Kata Coelacanth diambil dari bahasa Yunani yang berarti duri berongga. Walaupun sedikit, namun sampai sekarang ikan ini masih hidup di Indonesia, Kenya, Tanzania, Mozambik, Madagaskar dan Afrika Selatan. Menurut penjelasan di Wikipedia, Coelacanth memiliki sekitar 120 spesies yang diketahui berdasarkan fosilnya.


5. Horseshoe Crab atau Belangas atau Mimi Hitam


Diyakini bahwa hewan ini mulai muncul sejak periode Ordovician atau periode Paleozoikum. Dan menurut para ahli, horseshoe crab jauh lebih mendekati keluarga kalajengking dibandingkan keluarga dari kepiting.

Selain itu, para ahli juga memberikan kesimpulan bahwa Belangas adalah hewan yang memiliki umur lebih tua daripada dinosaurus tertua. Hewan ini dapat hidup di air dan di darat.


4. Nautilus (500 juta tahun)


Nautilus disebut juga living fossil atau fosil hidup karena banyak arkeolog yang menemukan fosil hewan ini di bebatuan, namun sampai sekarang Nautilus masih dapat ditemui di perairan Indo-Pasifik.

Menurut para ahli, di era dinosaurus, hewan ini memiliki beragam varian, dikarenakan banyak faktor, sekarang ini silsilah keluarga Nautilus yang tersisa hanya cephalopoda atau cumi-cumi saja.


3. Jellyfish atau Ubur-Ubur (505 juta tahun)


Ubur-ubur adalah hewan laut yang termasuk dalam kelas Scyphozoa dan tergolong dalam keluarga Cnidaria atau Coelenterata. Tubuhnya berbentuk payung berumbai, dapat membuat gatal pada kulit bila tersentuh. Tercatat ada sekitar 1.800 jenis ubur-ubur di dunia.

Jenis ubur-ubur yang paling berbahaya adalah dari kelompok Cubozoa. Sengatan tentakelnya bisa menimbulkan kematian. Ubur-ubur yang paling mematikan dari kelompok ini adalah ubur-ubur Irukandji, yang ukurannya kecil. Ubur-ubur ini hidup di sekitar pantai Australia.

Hewan ini sangat susah untuk menjadi fosil ketika mati dikarenakan tubuhnya yang tipis dan lunak. Namun, pernah ditemukan sebuah fosil yang diyakini adalah Ubur-ubur purba beberapa tahun lalu.


2. Sponge atau Porifera (580 juta tahun)


Porifera atau spons atau hewan berpori adalah sebuah filum untuk hewan multiseluler yang paling sederhana. Seperti halnya Cyanobacteria, para peneliti mempunyai asumsi bahwa Sponge adalah salah satu makhluk hidup yang ada sejak awal hewan di darat, air dan udara muncul.

Fosil Sponge tertua yang pernah ditemukan adalah berusia sekitar 540 juta tahun di sebuah batu di Australia. Sponge juga mirip Ubur-ubur yang susah untuk menjadi fosil karena karakteristik tubuhnya.


1. Cyanobacteria (3,8 miliar tahun)


Para peneliti mempunyai asumsi bahwa Cyanobacteria adalah makhluk hidup pertama yang hidup di bumi. Cyanobacteria, dikenal pula sebagai sianobakteri(a), bakteri biru-hijau, ganggang biru-hijau (Cyanophyceae), serta ganggang biru, adalah filum (atau divisi) bakteri autotrof fotosintetik.

Jejak fosilnya telah ditemukan berusia 3,8 miliar tahun. Kelompok bakteri ini sekarang adalah salah satu kelompok terbesar dan terpenting di bumi. Makhluk ini hidup di sulfur dan gas metan yang tersebar merata hampir di seluruh tempat di awal bumi terbentuk.

Walaupun kecil, namun Cyanobacteria atau ganggang biru-hijau ini merupakan salah satu kelompok terpenting dalam rantai ekosistem makhluk hidup di bumi. Cyanobacteria dapat ditemui di laut atau samudera, perairan tawar, di permukaan batu sampai di tanah.


Kesimpulan

Itulah 10 hewan paling tua yang masih hidup di Bumi hingga kini sejak ratusan juta tahun bahkan milyaran tahun lalu. Dari semua hewan tersebut, adakah dari mereka yang berevolusi hingga bentuknya berubah, bahkan jadi bentuk hewan lain? Tidak ada.

Inilah bukti nyata, dari fosilnya hingga hewannya sendiri masih dapat saling dibandingkan (compare) dan terbukti bahwa memang mereka tidak berubah menjadi spesies lain. Dan ini bukan suatu teori, ini adalah bukti bahwa makhluk hidup hanya dapat beradaptasi dan bukannya berevolusi menjadi makhluk lain.

Iya, makhluk hidup hanya beradaptasi, bukan berevolusi dari makhluk satu sel atau bersel tunggal hingga dapat menjadi trilyunan sel dengan organ yang ribet dan kompleks, seperti manusia.


Sumber :
indocropcircles

Kamis, 01 Januari 2015

Jangan Sakiti, Karena Tawon Bisa Mengenali Wajah Anda

Seekor tawon lewat dan Anda berusaha memukulnya dengan kertas koran. Tawon itu pergi menghindar. Apakah Anda lalu aman? Mungkin tidak. Tawon mengenali wajah Anda dan bisa kembali menyerang.


Mengejutkan memang. Namun, adalah nyata bahwa jenis tawon kertas bisa mengenali wajah. Elizabeth Tibbetts dari University of Michigan menemukan fakta tersebut. Ia mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal Ethology.

Selain tawon, Tibbetts juga menemukan bahwa lebah madu pun merupakan serangga yang bisa mengenali wajah. Hewan lain yang juga punya kemampuan seperti manusia itu antara lain burung gagak.

Diberitakan I Fucking Love Science, saat ada individu, baik hewan lain maupun manusia, mata tawon kertas dan lebah madu akan membentuk struktur heksagonal. Struktur itu terdiri atas ribuan struktur lebih kecil bernama ommatidia.

Dengan membentuk struktur itu, serangga seperti tawon kertas dan lebah madu berusaha merangkai wajah hewan, manusia, atau obyek apa pun yang ada di hadapannya. Citra yang dihasilkan memang tidak sejelas yang manusia lihat, tetapi cukup bagi tawon untuk mengidentifikasi.

Kini, semakin banyak kemampuan yang semula dianggap istimewa dan hanya manusia yang memilikinya ternyata juga dipunyai hewan lain. Mulai sekarang, hati-hati bila menyakiti si tawon. Siapa tahu, dia akan membalas dendam.


Sumber:
kompas

Kamis, 30 Januari 2014

Ini Jawaban Lalat Buah Pintar Membedakan Rasa

Bila kamu melihat lalat buah, mereka bisa membedakan buah yang manis dan tidak. Walau dalam satu pohon sekelompok buah matang bersamaan, ada yang lebih digemari dan tidak. Karenanya, petani sering membungkus buah agar tak diganggu hama.

Kehebatan serangga menentukan sumber makanan terbaik menjadi pertanyaan sejak lama. Kuncinya ada pada reseptor. Setiap jenis serangga memiliki reseptor perasa - protein baru - yang bisa merasakan adanya bahan kimia pada sumber makanan. Tak hanya membuat pilihan penting terkait makanan, tetapi juga pasangan, atau lokasi menempatkan telur-telur mereka.

 


Meskipun reseptor serangga sudah ditemukan lebih dari satu dekade lalu, bagaimana mereka mengenali bahan kimia yang beragam tetap menjadi teka-teki dan tantangan yang belum terjawab - sampai sekarang. Karena itulah, para peneliti di University of California mencari tahu lebih jauh fungsi reseptor tersebut. Lalat buah dipilih karena "Rasa manis berfungsi sebagai indikator dari nilai gizi, dan lalat, seperti banyak hewan lain, suka dengan yang manis-manis," ujar Anupama Dahanukar, asisten profesor entomologi yang memimpin proyek penelitian.

Lalat buah memiliki delapan reseptor perasa manis, dan apa yang dilakukan masing-masingnya secara khusus belumlah jelas. Hal yang mengejutkan disini, para peneliti menemukan bahwa masing-masing dari delapan reseptor itu dianugerahi kepekaan terhadap satu atau lebih substansi manis.

Analisis sistematis mereka menunjukkan bahwa reseptor dapat dipisahkan menjadi dua kelompok yang didasarkan pada senyawa mana yang mereka deteksi dan seberapa erat kaitannya mereka secara berurutan.
 

"Setiap reseptor berkemungkinan memberikan kontribusi langsung dan independen bagi spektrum respons keseluruhan pada neuron-neuron rasa manis, yang bisa memiliki beberapa implikasi penting dalam mengembangkan strategi untuk memblokir reseptor ini," kata Dahanukar.

Tim risetnya menggunakan penciuman neuron Drosophila sebagai inang untuk memperlihatkan reseptor perasa. Neuron ini unik karena, meskipun hal ini terkait dengan bau, itu memperlihatkan anggota dari famli reseptor perasa.

"Kami mengungkap reseptor perasa manis, satu demi satu, dalam neuron ini, dan kami menemukan bahwa neuron inang, yang biasanya tidak merespon gula, sekarang mampu diaktifkan oleh substansi manis," kata Dahanukar.

"Orang akan berharap bahwa pertukaran reseptor perasa antara neuron-neuron perasa yang berbeda akan terdengar strategis, tetapi mereka telah mencobanya dan gagal," kata Erica Gene Freeman, seorang mahasiswa pascasarjana bioteknologi yang bekerja di lab Dahanukar dan penulis pertama dari makalah penelitian ini.

 
Anupama Dahanukar, asisten profesor entomologi / escience.com


Next target: nyamuk
Keberhasilan Dahanukar dan tim mempelajari reseptor pada lalat buah, membawa kemajuan utntuk mengetahui bagaimana hal ini juga berlaku pada nyamuk. Seperti ditulis dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, yakni mengungkap fungsi reseptor rasa pada serangga yang menularkan penyakit (misalnya, nyamuk) atau merusak tanaman (misalnya, kumbang dan kumbang penggerek).

Meskipun perbedaan evolusi antara nyamuk dan lalat, reseptor perasa nyamuk itu secara fungsional seperti neuron lalat yang tidak ada faktor nyamuk lainnya.

"Ini memberi kita dorongan untuk menyelidiki reseptor perasa dari serangga lainnya seperti nyamuk yang menularkan penyakit, serta hama yang memakan tanaman," kata Dahanukar. "Salah satu tujuan penting adalah untuk melihat apakah kita dapat menggunakan sistem ini untuk menemukan senyawa yang dapat memodifikasi perilaku makan serangga berbahaya dengan cara yang lebih tepat sasaran."







 










Sumber:
meleksains

Senin, 23 Desember 2013

Ilmuwan Berhasil Ubah Alga Jadi Minyak Bumi dalam Satu Jam

Umumnya, butuh 65 juta tahun untuk mengubah material dari tumbuhan seperti alga menjadi minyak bumi. Namun, dengan rekayasa, kini ilmuwan memperpendek proses itu menjadi hanya satu jam.

Teknik pemrosesan tersebut dikembangkan oleh Douglas C Elliot dan timnya dari Pacific Northwest National Laboratory (PNNL) yang dijalankan di bawah Departemen Energi, Amerika Serikat. Hasil studi dipublikasikan di Algal Research.


Diuraikan I Fucking Love Science, untuk mengubah alga menjadi minyak bumi, proses pertama yang dilakukan adalah membuat bubur alga.

Bubur alga itu dimasukkan dalam sebuah reaktor dan kemudian dipanaskan hingga mencapai suhu 350 derajat celsius serta tekanan hingga 3.000 PSI. Kondisi dalam reaktor itu mirip dengan kondisi di bawah permukaan Bumi selama jutaan tahun.

Kurang dari satu jam setelah bubur alga masuk ke reaktor itu, terbentuklah campuran hitam yang terdiri atas minyak bumi, air, dan produk sampingan yang bisa didaur ulang.


Sekali minyak bumi dapat diisolasi dari campuran itu, ilmuwan bisa mendulang bensin, solar, dan bahan bakar jet dengan proses seperti yang dilakukan saat ini. Produk sampingannya sendiri berupa potasium dan nitrogen, bisa dikembalikan ke proses awal, dengan memberi makan alga.

Alga telah lama diketahui berpotensi sebagai sumber energi. Namun, selama ini, pemanfaatannya terkendala proses pengolahan yang lama.

Teknik yang dikembangkan PNNL menjadi solusi. Bila biasanya pemanenan biofuel dari alga harus dimulai dengan proses pengeringan yang lama, kini proses bisa dipersingkat sehingga pemanfaatan alga untuk energi lebih viable.

Hambatannya saat ini adalah soal biaya. Teknologi baru ini punya biaya operasi yang besar, yakni teknologi reaktornya.

Agar bisa lebih murah, PNNL melisensikan teknologinya kepada Genifuel Corporation. Selanjutnya, perusahaan itu akan membangun reaktor dengan skala yang lebih besar.


Sumber :
kompas

Senin, 16 Desember 2013

Bahaya, Medan Magnet Bisa Mengubah Moral

Tingkat kejahatan, asusila, hingga korupsi terkait dengan kadar kesadaran moral individu. Saat nurani mulai terkikis, maka seseorang cenderung mudah melakukan tindakan di luar batas kemanusiaan.

Cukup mengejutkan, penilaian moral dalam diri seseorang terkait dengan bagian tertentu dalam otak. Dan, medan magnet bisa mengubahnya. Hal ini berarti, tindakan sesuai moral bisa saja berbalik 180 derajat sehingga justru melakukan hal-hal yang amoral. Bahayanya, bila cuci otak menggunakan metode ini, Anda tahu hasilnya, kan?

 
Ilustrasi / nytimes.com


Sekumpulan ilmuwan telah membuktikannya lewat serangkain tes. Hasilnya,  mereka bisa mengubah penilaian moral kita hanya dengan mengganggu bagian tertentu otak kita dengan medan magnet.

Patut diketahui, bagian kanan temporo-parietal junction (TPJ) otak menunjukkan aktifitas tinggi ketika kita melakukan penilaian moral seperti mengevaluasi maksud orang lain. Hal ini mengindikasikan bahwa bagian itu penting untuk membuat keputusan moral.

Nah, tim dari MIT menunjukkan bahwa medan elektromaknetis yang ditempelkan di kulit kepala melemahkan kemampuan kita untuk mengevaluasi maksud orang lain, menyisahkan kita sedikit saja kemampuan untuk melakukan penilaian moral.

Penelitian itu mengandalkan non-invasive transcranial magnetic stimulation (TMS) untuk mengganggu bagian kanan TPJ, menghalangi sesaat tembakan normal neuron (sel saraf) di wilayah itu.



Uji coba
Pada satu eksperimen, para peserta diberikan TMS selama hampir setengah jam lalu diminta untuk menjawab soal-soal di mana mereka harus menilai aksi orang-orang berdasarkan maksud mereka. Pada tes kedua, para subyek dipukul dengan ledakan  500-milidetik TMS tepat saat mereka mulai mengevaluasi masalah moral.

Pada kedua kasus, para subyek kontrol mampu mengevaluasi bahaya dan moralitas dari maksud orang-orang, sedangkan mereka yang diberikan TMS membuat penilaian berdasarkan hasil semata.

Sebagai contoh, satu pertanyaan umum dilontarkan apakah secara moral diperbolehkan bagi seorang pria untuk mengijinkan pacarnya menyebrangi jembatan yang dia tahu tidak aman walaupun pada akhirnya pacar dia berhasil menyebrangi jembatan itu dengan selamat. Para subyek kontrol mengetahui maksud untuk membahayakan secara moral tidak diperbolehkan, tapi mereka yang diberikan TMS sebagian besar mendasarkan penilaian mereka semata-mata hanya pada hasilnya; tak berbahaya, tak ada pelanggaran.

Penelitian itu tidak hanya menunjukkan bahwa moral kita tidak sepenuhnya tak bisa terganggu, tapi juga memberikan penerangan tentang cara otak mengatur dan membuat pembagian keputusan moral. Hal itu juga memperkuat sesuatu yang kita semua tahu secara intuisif benar: mencari perbedaan antara benar dan salah adalah sesuatu yang tidak gampang.










 








Sumber:
sainspop

Wow, Ditemukan Siput Laut Pertama yang dapat Melepas dan Menumbuhkan Kelaminnya

Goniobranchus reticulatus atau awalnya dikenal dengan nama Chromodoris reticulata adalah moluska gastropoda laut dalam famili Chromodorididae.

Nudibranch atau siput laut berwarna indah ini dapat ditemukan di Pasifik, perairan Indonesia hingga Filipina. Species yang dapat mencapai panjang 100 mm ini, adalah hewan Hermafrodit yang berarti tiap-tiap mereka memiliki dua kelamin, pria dan wanita sekaligus.


Yang lebih unik lagi, mereka memiliki kemampuan untuk melepaskan dan menumbuh-ulangkan penis mereka. Bagaimana bisa mereka melakukannya?

Kedua organ reproduksi mereka semuanya berada di sisi kanan tubuh mereka, jadi jika mereka berdua bertemu dengan posisi berlawanan, masing-masing dapat memasukkan penis nya ke dalam organ wanita kawannya.

Dengan begitu, mereka saling memberikan sperma satu sama lain. Setelah kawin, penis mereka pun lepas. Namun, tumbuh kembali hanya dalam 24 jam! Penis yang baru langsung berfungsi penuh dan memungkinkan nudibranch ini untuk kawin lagi sebanyak tiga kali dalam tiga hari sebelum kelelahan.


Perkawinan dan morfologi penis pada Chromodoris reticulata.

(a,b) Dua siput saling memasukkan penis mereka ke dalam vagina pasangannya.

(c,d) Autotomized penes setelah kawin, ujung penis bengkak.

Massa sperma (sp) melekat pada penis yang berduri di (d).


Siput laut bukan satu-satunya hewan yang diketahui kehilangan organ reproduksi laki-laki mereka setelah kawin, tetapi adalah hewan pertama yang diketahui dapat menumbuhkan kembali penis nya. Lebah madu Drone juga kehilangan penis mereka saat kawin tetapi mereka kemudian dibiarkan mati.





Sumber :
versesofuniverse

Sabtu, 14 Desember 2013

Mengapa Kita Tidak Mudah Lapar Saat Tidur?

Tubuh memiliki mekanisme unik untuk menjaga keseimbangan. Lapar misalnya. Kita bisa tidur semalam suntuk tanpa terbangun karena lapar. Padahal, rasa lapar kerap mendera ketika kita terjaga. Mengapa kita tidak pernah merasa lapar saat sedang tidur? Apa penyebabnya?


Sebuah studi yang dimuat pada Jurnal Neuroscience menyebutkan, fenomena tersebut diakibatkan adanya syaraf dalam usus yang bertugas memberi sinyal kenyang ke otak. Syaraf tersebut bekerja dengan ritme berulang seperti jam.

Tim peneliti dari Universitas Adelaide melakukan serangkaian pengujian yang dilakukan pada tikus. Meski demikian, para ilmuwan yakin hasil penelitian ini juga berlaku pada manusia.

Dikutip dari Huffington Post, hasil penelitian menyebutkan bahwa saat tubuh terjaga, syaraf tersebut menjadi tidak sensitif.

Saat berada dalam periode tidak sensitif, syaraf tersebut tidak responsif mengirim sinyal kenyang ke otak. Itulah mengapa saat terjaga kita merasa lapar dan bisa mengonsumsi makanan sampai kenyang.

Sebaliknya pada malam hari, syaraf tersebut sangat sensitif. Saat kita tidur, syaraf tersebut menjadi responsif mengirim sinyal kenyang ke otak. Akibatnya hanya sedikit makanan yang dapat diterima tubuh dan kita tidak merasa lapar.

"Saat pergantiaan hari menuju periode yang diasosiasikan untuk tidur, syaraf di perut itu lebih sensitif meregang. Ia mengirim sinyal kenyang ke otak lebih cepat, sehingga asupan makanan dibatasi," ujar Dr. Stephen Kentish, peneliti dalam Laboratorium Penelitian Syaraf Usus di Universitas Adelaide.

Ritme kerja syaraf tersebut terus berulang dalam 24 jam. Peneliti menyimpulkan syaraf inilah yang bertugas sebagai koordinator dalam tubuh. Ia menentukan bisa tidaknya tubuh menerima makanan sesuai asupan energi yang dibutuhkan tubuh.


Sumber :
detik

Jumat, 13 Desember 2013

Aceh Sering Kena Tsunami, Terlihat dari Goa ini

Tsunami Aceh 2004 silam bukan yang pertama. Daerah serambi Mekkah ini ternyata beberapa kali dihantam kekuatan alam tersebut, dan rekam jejaknya terlihat pada sebuah goa yang terletak di dekat kota Banda Aceh.


Tim yang dipimpin oleh Charles Rubin dari Earth Observatory Singapore, Nanyang Technological University, mengungkapnya dalam penelitian terbaru. Laporannya diungkap dalam pertemuan tahunan American Geophysical Union di San Fransisco, Kamis (12/12/2013).

Goa yang mereka temukan ini menyimpan lapisan guano (kotoran kelelawar) dan debris tsunami yang masuk ke goa. Debris tsunami bisa diketahui dengan melihat karakteristik pasir dan organismenya, misalnya adanya mollusca dan foraminifera.

Menurut Jessica Pilarczyk, salah satu anggota tim, mereka melakukan penanggalan pada sedimen tersebut dan mengetahui bahwa sedimen itu terbentuk sejak 7.500 hingga 3.000 tahun yang lalu.
Penelitian terus dilanjutkan dan ilmuwan menemukan bahwa sedimen itu menyimpan jejak dari 7-10 tsunami yang pernah menghantam Aceh.

Dengan geometri goa, ilmuwan mengungkapkan bahwa tsunami dipicu oleh gempa yang bermagnitudo 8 atau lebih.

Menurut Pilarzyk, goa yang ditemukan sangat istimewa, memungkinkan sedimen yang menunjukkan sejarah kejadian tsunami benar-benar sempurna.

Sejarah yang terekam dalam sedimen itu punya pesan. Tsunami besar bukanlah peristiwa yang bisa dipastikan. Jeda antar-tsunami besar bisa saja sangat lama, tetapi bisa juga hanya beberapa dekade.


Sumber:
kompas

Rabu, 11 Desember 2013

Seberapa Parah Polusi? Amati Saja Burung Gereja

Ukurannya mungil sekitar 10 - 15 cm, warnanya coklat dan sering hinggap di bubungan rumah. Tapi tergantung lokasinya. Lebih susah menemukan burung mungil ini di tengah kota besar atau kawasan industri dibanding area yang berudara lebih bersih.

Burung gereja, atau masyarakat sering mengelompokkannya sebagai burung pipit (sparrow) sebenarnya termasuk genus Passeridae. Mereka juga dikenal sebagai burung Dunia Lama. Species-species ini sering bersarang di bangunan dan rumah. Di Indonesia mungkin sering dijumpai di bawah atap gereja, hingga disebut sebagai burung gereja.



Jadi burung gereja bisa disebut burung liar yang paling akrab dengan manusia. Burung gereja memakan biji-bijian, meskipun juga mengonsumsi serangga kecil. Beberapa spesies mengais makanan di sekitar kota.

Di Indonesia, sub-spesies yang paling terkenal adalah Passer montanus-malaccensis. Sarangnya dibangun dalam rongga alami, sebuah lubang di sebuah bangunan. Mereka bertelur lima atau enam butir yang menetas di bawah dua minggu. Seperti burung kecil lainnya, mereka bisa terinfeksi parasit dan diburu burung pemangsa. Rata-rata masa hidup mereka sekitar dua tahun.

Passer montanus tersebar luas di kota-kota dan kota-kota di Asia Timur, tetapi di Eropa spesies ini adalah burung pedesaan. Burung gereja Eropa adalah spesies Passer domesticus yang berbiak di daerah perkotaan. Walaupun populasi Passer montanus yang besar memastikan bahwa mereka secara global tidak terancam punah,  sudah ada penurunan besar dalam populasi Eropa Barat. Penyebabnya, sebagian karena perubahan dalam praktik pertanian yang melibatkan peningkatan penggunaan herbisida dan hilangnya lahan-lahan tunggul musim dingin.

Dalam beberapa makalah, populasi burung gereja sering jadi indikator tingkat populasi sebuah wilayah. Misalnya dalam jurnal karya Swaileh KM dan Sansur R dari Dept. of Biology and Biochemistry, Birzeit University yang meneiti berapa banyak konsentrasi logam dalam perut burung gereja.

Metoda penelitian dilihat dari kotoran dan cangkang telurnya. Ditemukan, pada burung gereja yang hidup di pemukiman padat maka konsentrasi Cu, Pb, dan Zn lebih tinggi dibanding yang hidup di area bebas polusi.

Kajian tersebut sedikit banyak membuktikan keberadaan burung gereja di suatu wilayah bisa jadi petunjuk seberapa banyak tingkat polusi di daerah tersebut. Jadi, amatilah lingkungan dan sekeliling rumah. Apakah masih sering mendengar cicit burung gereja? Bila ya, berbahagialah karena kadar polutan di tempat bermukim masih bisa ditolerir.


Selasa, 10 Desember 2013

'Ilmu Rawa Rontek' Mulai Tersaingi Dengan Keberhasilan Transplantasi Kepala

Ada yang pernah dengar ilmu Rawa Rontek? Ilmu tingkat tinggi ini konon dikuasai oleh Pitung, sang pendekar legenda Betawi. Ia kebal segala senjata, walau kepalanya terpenggal masih bisa tersambung dan hidup lagi.

Kalau kesaktian semacam itu berbau mistis, tapi tidak bagi ilmu kedokteran dewasa ini. Kabar mengejutkan datang dari Italia.

Sebuah proyek yang disebut HEAVEN mengumumkan dalam sebuah jurnal Surgical Neurology International, penyambungan atau transplantasi kepala pada manusia semakin mendekati kenyataan.

Ilustrasi: Menggambarkan bila transplantasi kepala jadi kenyataan,
bukan tak mungkin menghidupkan kembali presiden dunia yang telah mati.


Dalam jurnal disebutkan Dr. Sergio Canavero menguraikan prosedur untuk mengambil kepala dari donor dan menanamkannya ke tubuh orang lain. Langkah ini melibatkan induksi hipotermia dan memotong syaraf sumsum tulang belakang dengan pisau ultra-tajam, sehingga dapat menyatu dengan sumsum tulang belakang donor.

"Hal ini, tentu saja, benar-benar berbeda dari apa yang terjadi dalam cedera tulang belakang klinis, di mana kerusakan dan jaringan parut menghambat regenerasi," tulis Canavero.

Dr Sergio Canavero yang kini dijuluki "Dr. Frankestein"

Ia menguraikan skenario hipotetis, di mana donor adalah orang yang menglami mati otak. Dia mengatakan, penerimanya bisa siapa saja yang berada dalam kondisi terminal, karena kanker atau apa pun yang meninggalkan otaknya dalam kondisi utuh.

Untuk transplantasi kepala, dua operasi harus dilakukan di ruang yang sama, di mana kedua tali tulang belakang akan terputus secara bersamaan untuk kemudian segera disambungkan, direkatkan dengan zat yang disebut polyethylene glycol, atau PEG.


Sejak 1950

Sebenarnya transplantasi kepala bukanlah hal baru. Menurut catatan, pertama kali terjadi pada tahun 1950 ketika seorang Dokter Rusia mencoba tranplantasi kepala anjing.

Di tahun 1970, Robert White, dari Case Western Reserve University (CWRU), menguji-coba pada monyet. Binatang itu bisa bertahan hidup dengan tubuh baru selama 8 hari. Kelemahannya, kepala monyet yang baru tidak memiliki kontrol atas tubuh saraf baru.

Transplantasi kepala termasuk menyambung kembali jutaan saraf


Berbagai upaya perbaikan terjadi bertahun-tahun kemudian. Percobaan transplantasi pada tikus bisa mengontrol saraf kandung kemih dan diafragma.

Dua bahan kimia chondroitinase dan FGF digunakan untuk memberikan insentif proses rekoneksi. Selain itu, PEG pencahar (polyethylene glycol), dan bahkan melatonin juga dipakai dalam membantu regenerasi saraf.

Kembali pada hasil percobaan Canavero di Italia, berbagai kemajuan telah dicapai. Penyambungan kepala di tahun-tahun mendatang bukan hal yang mustahil. Namun, kendala terbesar adalah kesiapan masyarakat pada terobosan revolusioner ini.

"Masalahnya adalah bukan terkait dengan hal-hal teknis, tapi etis," ungkap Canavero dilansir dari ABCNews.com.

Lebih jauh, menurut sang dokter hasil operasi akan menciptakan sebuah chimera, makhluk mitologis, dan bertabrakan dengan isu-isu etika yang kompleks, misalnya, pasien akan menurunkan sifat genetiknya atau genetik donor.

Ketika kloning pada manusia masih terus diperdebatkan di banyak negara, bagaimana dengan ilmu rawa rontek modern saat ini?


Sumber:
tempo
wikipedia
extremetech
indianexpress

Sabtu, 07 Desember 2013

Buaya Lebih Pintar dari yang Kita Duga

Selama ini sering terlihat buaya hanya diam berjemur di pinggir sungai sepanjang hari. Seolah benar-benar binatang pemalas. Namun hasil penelitian terbaru oleh Vladimir Dinets dari University of Tennessee membuka wawasan baru. Hewan ini sangat pintar.

Dinets mengamati spesies buaya muggers dan American alligator, dan dilihatnya buaya-buaya tersebut sering meletakkan ranting di moncongnya. Rupanya ini bertujuan untuk memikat mangsanya datang. Reptil predator itu kemudian menggoyang-goyangkan ranting agar burung datang. Karena biasanya burung selalu mencari ranting untuk membuat sarang.

 


"Temuan pertama diketahui pada tahun 2007 lalu. Tim melihat perilaku buaya di sebuah kolam di India yang mengumpulkan ranting-ranting di atas moncongnya. Bentuknya mirip seperti sarang burung. Lalu, ketika ada burung yang hinggap di moncongnya, buaya langsung menyergapnya," ujar Dinets.

Hasil dari penelitian telah ini mengubah cara pandang kita terhadap buaya yang terkenal sebagai reptil yang biasa terlihat lesu, bodoh, dan membosankan. Tapi, sebenarnya buaya memiliki taktik berburu mangsa yang sangat terkoordinasi.

"Penemuan ini telah membuka wawasan baru yang sangat mengejutkan dari tingkat kecerdasan buaya. Sekarang kita tidak bisa lagi meremehkan seekor buaya yang sedang diam selama berjam-jam. Bisa saja predator itu sedang menyusun rencana untuk menyergap mangsanya," pungkas Dinets.

 

Catatan:
Perilaku hewan memakai umpan dalam memancing mangsa bukan hanya milik buaya. Seperti diketahui, bangau Butorides virescens menggunakan bulu, ranting, atau buah untuk menarik perhatian ikan. Burung hantu Athene menggunakan kotoran hewan mamalia untuk menarik kumbang kotoran. Demikian jug burung camar menggunakan umpan dalam mencari ikan Finch.





 



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Blogger Templates